Peneliti LSI Denny JA, Fadhli Fakhri Fauzan, dalam siaran persnya, pada akhir Oktober kemarin menjelaskan, adanya migrasi dukungan merupakan fenomena cukup menarik dalam survei tersebut.
Pasalnya, antara pilihan partai politik tidak serta merta selaras dengan pilihan pasangan calon bupati-wakil bupatinya.
“Ini memang didasari bahwa masyarakat lebih melihat sosok personal, figur, atau ketokohan dari calon ketimbang siapa partai pengusung dari pasangan calon tersebut,” kata Fadhli melalui rilis yang diterima media ini, Kamis (14/11/2024).
Baca Juga :Peringati Hari Jadi ke-149 RSUD Gambiran, Dharma Wanita Persatuan RSUD Gambiran Menggelar Expo Niaga
Fadhil juga mengatakan bahwa mayoritas masyarakat (84,3 persen) memilih calon bupati/wakil bupati terlepas diusung atau tidak dari partai yang disukai. “Atau bisa jadi ini merupakan indikasi bahwa konsolidasi partai ke akar rumput belum maksimal,” sambungnya.
Untuk diketahui, Pilkada Jombang digelar 27 November 2024. Ada dua pasangan calon yang sudah ditetapkan oleh KPU Jombang. Yaitu, nomor urut 01 Mundjidah Wahab – Sumrambah (MuRah). Pasangan ini diusung PDIP, PPP, Partai Demokrat. Totalnya 20 kursi. Pasangan ini juga didukung partai non-parlemen, Hanura.
Baca Juga :Dua Wisatawan Terseret Ombak, Keamanan Wisata Pantai Selatan Ditingkatkan
Kemudian, paslon nomor urut 02 H Warsubi – KH Salmanudin Yazid (WarSa). Pasangan ini diusung oleh sejumlah partai. Di antaranya, Partai Gerindra (8 kursi), PKB (12 kursi), Partai Golkar (5 kursi), PKS (3 kursi), serta Partai Nasdem (2 kursi). Totalnya 30 kursi.
Sedangkan partai non-parlemen yang memberikan rekomendasi untuk pasangan ini adalah PAN (Partai Amanat Nasional), PSI (Partai Solidaritas Indonesia) dan Partai Gelora.



















