Hal ini disinyalir disebabkan faktor adanya el nino dan musim kemarau yang panjang yang mempengaruhi kejadian kebakaran.
Selain itu, penyebab terjadinya kebakaran di Tulungagung mayoritasnya disebabkan akibat hubungan arus pendek atau korsleting listrik hingga kelalaian manusia. Maka dari itu, pihaknya meminta agar masyarakat memperhatikan instalasi jaringan listrik agar dipasang oleh petugas ahlinya dan tidak secara mandiri.
“Kami juga menghimbau agar masyarakat tidak meninggalkan rumah dalam kondisi perangkat elektronik yang masih menyala, karena ini juga berpotensi menyebabkan kebakaran,” ungkapnya.
Baca Juga :Dilarang Jual LPG Bersubsidi, Disperdagkum Ponorogo Dorong Pengecer jadi Pangkalan
Soal response time penanganan kebakaran, menurut Bambang mayoritas kejadian kebakaran di Tulungagung bisa direspons secara cepat. Hal ini dikarenakan mayoritas kasus kebakaran itu dekat dengan wilayah perkotaan, dimana jarak tempuhnya kurang dari 15 kilometer.
Menurut Bambang, jika dipersentasekan, tingkat response time atas penanganan kebakaran sepanjang tahun 2024 di Tulungagung mampu mencapai 90 persen lebih. Dengan begitu, petugas Damkar Tulungagung sudah melakukan penanganan kebakaran sesuai standar pelayanan minimum (SPM).
Baca Juga :Mas Dhito dan Mbak Dewi Dijadwalkan Dilantik 20 Februari 2024
“Tiga wilayah seperti Kecamatan rejotangan, Bandung dan Besuki itu memjadi wilayah paling sulit untuk memenuhi SPM. Untungnya di tahun 2024 kemarin, minim kejadian kebakaran disana,” pungkasnya.



















