Baca Juga :Jual Bubuk 2 Kg Mesiu Bahan Petasan, Pemuda di Tulungagung Diringkus Polisi
Namun, seperti dalam kehidupan nyata, konflik bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari perpecahan itulah, para tokoh menemukan kembali makna kebersamaan yang sempat terlupakan.
“Sangat bagus teaternya,” ujar Viola, salah satu penonton yang masih terhanyut dalam suasana usai pertunjukan.
“Banyak pesan bermakna di balik drama ini. Salah satu yang paling mengena bagi saya adalah bahwa dunia tidak akan berpihak pada orang yang lemah,” lanjutnya singkat.
Di balik panggung, Raisya Fania (17), salah satu pemeran, tampak tak mampu menyembunyikan harunya. Matanya berkaca-kaca, namun senyum bangga menghiasi wajahnya.
Baca Juga :Angka Kesembuhan Ternak Akibat PMK di Kabupaten Kediri Meningkat
“Rasanya benar-benar bangga. Penampilan tadi adalah hasil dari kerja keras kami bersama. Saya belajar bahwa, sekeras apa pun konflik dalam keluarga, akan selalu ada celah untuk menyatukan kembali. Seperti adegan terakhir di meja makan tadi,” tutur Raisya.
Di sisi lain, Reryta Zalwa Af Idhata masih memeluk beberapa rekannya. Air mata haru sempat menetes, sebelum buru-buru diusap. Dukungan dari teman-temannya terus mengalir, menguatkan satu sama lain.
“Tentu ada rasa grogi, tapi semua teratasi berkat kekompakan kami. Saya benar-benar bersyukur, terutama melihat antusiasme penonton yang luar biasa. Semoga ke depan, kami bisa terus berkarya dan berkembang lebih baik lagi,” ungkap Reryta dengan penuh harap.
Seiring malam yang semakin larut, acara pun ditutup dengan ucapan terima kasih dan sesi foto bersama yang penuh kehangatan. Sebuah akhir yang manis untuk sebuah pertunjukan yang penuh makna.



















