Dalam dunia pewayangan, Farel paling menyukai lakon Pendawa Sukur atau Sesaji Rajo Joyo, kisah tentang perjuangan dan kemenangan para Pandawa dalam membangun negeri.
“Nilai moralnya dalam. Tentang kejujuran, keteguhan, dan keikhlasan,” katanya pelan.
Bagi Farel, wayang bukan sekadar benda seni. Ia adalah terapi, pelarian, sekaligus penyejuk hati.
“Wayang itu indah. Dalam bentuknya, dalam ceritanya, dan dalam nilainya. Saya merasa tenang saat membuat atau memandangnya,” tutur Farel, matanya menerawang.
Di usianya yang masih belia, Farel menaruh harapan besar agar anak-anak muda lainnya juga bisa jatuh cinta pada budaya sendiri.
“Boleh saja suka budaya luar, tapi jangan lupakan budaya kita sendiri. Wayang itu bukan hanya peninggalan, tapi pelajaran hidup,” pesan Farel, penuh harap.
Baca Juga :Survei Dimulai, Pemkab Jombang Siapkan Lokasi Sekolah Rakyat Berasrama
Kini, di tengah persiapan kelulusan, Farel bersiap melanjutkan pendidikannya ke Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mengambil jurusan Sendratasik.
Ia ingin lebih dalam mengasah seni, memperluas jejaring, dan terus merawat api kecil yang telah ia nyalakan sejak kecil.
Di tangan-tangan seperti Farel, warisan budaya itu tidak akan punah. Ia akan terus hidup—dalam gores karton, dalam bayang-bayang layar, dan dalam cinta yang tulus dari generasi yang tak ingin melupakan asal-usulnya.



















