Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto menjelaskan, Grebeg Ketupat bukanlah sekadar acara seremonial belaka, namun simbol rasa syukur dan silaturahmi antar warga.
Baca Juga :Tenggelam di Kedung Kalitimo Tulungagung, Pemuda Asal Blitar Ditemukan Terbujur Kaku
“Kegiatan ini diikuti lebih dari 300 kelompok seni yang mengiringi tumpeng ketupat. Ada tumpeng agung, tumpeng buah dan sayur, serta tumpeng berisi 100 doorprize untuk masyarakat. Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat tradisi budaya kupatan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menjadi bagian dari promosi wisata Kota Batu,” ujar Onny.
Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Sekda Kota Batu, Forkopimda, Ketua PHRI Kota Batu, serta tokoh masyarakat dan agama.
Grebeg Ketupat atau Rebutan Kupat sendiri merupakan tradisi yang hidup di berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk di Kota Batu. Ketupat yang dibuat dari anyaman janur berisi beras memiliki filosofi mendalam, yakni sebagai simbol pembersihan diri, pengampunan, dan berkah setelah Ramadan.
Tradisi ini biasa digelar pada awal bulan Syawal sebagai bentuk syukur atas nikmat menjalankan ibadah puasa Ramadan serta puasa Syawal. Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk sedekah, memperkuat silaturahmi, dan semangat gotong royong antarwarga.
Baca Juga :Peringati Hari Jadi Nganjuk, Unlat PSHT Rayon Jatirejo Ikuti Kerja Bakti Serentak
Di Kota Batu, Grebeg Ketupat Syawal dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya menjaga nilai-nilai tradisi, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat serta menjadi daya tarik wisata budaya. Pemerintah Kota Batu berharap melalui kegiatan ini, masyarakat semakin bangga dengan budayanya serta turut andil dalam melestarikannya.


















