Kisah Nenek Misringah CJH Tertua Asal Ponorogo Mampu Berhaji dari Berjualan Asam Jawa

Kisah Nenek Misringah CJH Tertua Asal Ponorogo Mampu Berhaji dari Berjualan Asam Jawa
Nenek Misringah ditemui di rumahnya saat menceritakan perjalanan hidupnya bisa berangkat haji tahun ini. (sony/sejahtera.co)

“Tanggal 16 Mei 2025 berangkat, tidak takut naik pesawat,” ujar Misringah sambil tersenyum.

Sementara itu, Mujiati menjelaskan jika pada 2019 lalu ibunya tiba-tiba ingin mengutarakan keinginannya untuk pergi haji. Lalu, dijualah sejumlah perhiasan emas milik ibunya tersebut untuk mendaftar haji.

Baca Juga :DPRD Kabupaten Kediri Bahas Pansus Raperda Kawasan Tanpa Rokok Tahap Dua

Read More

Meski hanya cukup untuk mendaftar, sejumlah kekurangan biaya pun dicukupi oleh ketujuh anaknya.

“Mbah ini dulunya pekerjaannya hanya memungut asam jawa, dijual lalu dikumpulkan uangnya, lalu dibelikan perhiasan. Perhiasan itu yang dijual untuk mendaftar haji, lalu anak-anaknya yang mencukupi,” paparnya.

Mujiati juga mengungkapkan, sang ibu saat ini juga masih aktif beraktivitas mencari buah asam jawa. Tapi, sejak enam bulan terakhir, Mujiati pun melarang ibunya, untuk beristirahat dan tidak melakukan aktivitas berat.

Baca Juga :Penutupan Warung Esek-esek di Ponorogo, Kang Wie: Satpol PP Harus Terus Menyisir

“Di kebun masih aktif, ya cabut rumput, memungut asam jawa dari bawah pohon, tapi sejak enam bulan terkahir sudah saya larang, sejak dipastikan bisa berangkat haji tahun ini,” pungkas Mujiati.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *