Ironisnya, gas LPG 3 kilogram memang diperuntukkan bagi masyarakat kecil dan UMKM. Namun ketika distribusi terganggu, justru mereka yang paling rentan merasakan dampaknya.
Tidak adanya kepastian pasokan membuat pelaku usaha kecil berada dalam posisi sulit, antara tetap buka dengan risiko rugi, atau tutup demi menekan kerugian.
Warga pun berharap agar pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan. Keterlambatan distribusi gas tak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga mengguncang roda ekonomi kecil yang sedang mereka upayakan.
Baca Juga :Polsek Balong Tertibkan Konter HP di Ponorogo yang Kibarkan Bendera One Piece di Bawah Merah Putih
“Kalau begini terus, bisa banyak warung tutup. Kami harap pemerintah cepat bertindak,” ujar salah satu pedagang lain yang enggan disebut namanya.
Di tengah gemuruh ekonomi makro, kisah para penjaja nasi, gorengan, dan mi instan di sudut-sudut kota mungkin terdengar kecil. Tapi dari merekalah denyut ekonomi lokal berdetak.
Dan setiap keterlambatan gas, berarti satu panci tak jadi menyala dan satu penghidupan ikut terguncang



















