Setelah indukan dimasukkan ke kandang, proses penjodohan membutuhkan kesabaran. Ada pasangan yang cepat akur, namun ada pula yang memerlukan waktu lebih lama.
Indukan yang berjodoh biasanya tampak selalu berdekatan dan saling menyuapi. Ketika sudah bertelur, suasana kandang perlu dijaga tetap tenang agar proses pengeraman berjalan optimal.
Perhatian ekstra juga dibutuhkan saat memasuki fase anakan.
Pada usia tertentu, sebagian peternak memilih melakukan handfeeding untuk memaksimalkan pertumbuhan piyik. Namun fase ini tergolong sensitif dan membutuhkan kedisiplinan tinggi.
“Fase ini sangat kritis. Kebersihan alat dan suhu makanan harus diperhatikan betul untuk menekan angka kematian,” tegas Iqbal.
Pakan yang seimbang menjadi faktor pendukung utama. Selain biji-bijian sebagai pakan pokok, lovebird juga membutuhkan asupan tambahan berupa sayuran, buah, serta mineral. Kebersihan kandang dan peralatan harus dijaga secara rutin untuk mencegah penyakit.
Baca Juga :Musim Liburan, Pengunjung Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Kediri Capai 153 Oang Perhari
Iqbal menilai, bagi pemula yang ingin belajar lebih santai, sistem koloni juga bisa dipertimbangkan. Lovebird yang bersifat sosial cenderung lebih nyaman hidup berkelompok, asalkan kandang cukup luas dan sarang tersedia memadai.
“Metode ini efektif dengan menampung banyak pasangan dalam satu kandang besar minimal 2×3 meter. Kuncinya adalah kandang kokoh dengan ventilasi baik, serta penyediaan sarang yang cukup untuk setiap pasangan,” paparnya.
Ia menegaskan, beternak lovebird bukan soal cepat panen atau mengejar hasil semata. Ketika dimulai dari hobi, perhatian dan kasih sayang akan tumbuh dengan sendirinya. Dari situlah pengalaman, pengetahuan, dan kepercayaan diri sebagai breeder perlahan terbentuk.
“Lakukan riset, bergabung dengan komunitas, dan mulailah dengan skala kecil untuk meminimalisir risiko,” tutup Mohamad Iqbal.



















