Untuk menjaga keseimbangan itu, Dony menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program Klasterkuhidupku. Bagi Dony, ini bukan sekadar pinjaman, melainkan bentuk dukungan yang memahami karakter pertanian.
“Di pertanian, kita tidak bisa disamakan dengan usaha lain. Panen itu musiman. Jadi sistem cicilan juga harus menyesuaikan. Dengan sistem musiman dari BRI, kami bisa bernapas lebih lega,” katanya.
Sistem itu memberi ruang-ruang bagi para petani untuk fokus pada produksi tanpa dihantui tenggat bulanan yang kaku. Pembayaran dilakukan setelah panen, ketika hasil benar-benar ada. Sebuah pendekatan yang sederhana, tetapi sangat relevan.
Di balik itu semua, Desa Sumbernongko menyimpan pelajaran penting: bahwa pertanian bukan sekadar menanam dan memanen, tetapi juga soal membaca waktu. Tidak semua yang hijau harus segera dipetik. Ada kalanya, sesuatu harus dibiarkan tumbuh lebih lama agar memberi manfaat yang lebih besar.
Kisah ini juga tentang regenerasi, tentang bagaimana anak muda seperti Dony memilih untuk tetap tinggal, mengolah tanah, dan membangun masa depan dari akar yang sudah ditanam sebelumnya. Di saat banyak orang pergi mencari peluang di kota, ia justru menemukan peluang itu di desa.
Kini, setiap butir benih yang dihasilkan bukan hanya simbol keberhasilan panen, tetapi juga harapan. Harapan bagi 200 keluarga petani yang menggantungkan hidup pada tanah ini. Harapan bahwa desa bisa menjadi pusat pertumbuhan, bukan sekadar tempat yang ditinggalkan.
Baca juga:Lewat Musyawarah, PPP Jombang Tunjuk 5 Formatur Susun Pengurus Baru
Di Sumbernongko, waktu memang berjalan lebih pelan. Tetapi dari kelambatan itu, lahir sesuatu yang lebih dalam: ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa dari sesuatu yang kecil, sebutir benih, dunia bisa kembali tumbuh.



















