Selain berdampak pada sektor peternakan dan pertanian, penghentian sementara operasional SPPG juga menimbulkan kerugian bagi para mitra pelaksana. Rifqi menyebut selama program berjalan, setiap mitra memperoleh insentif sekitar Rp6 juta per hari. Namun sejak operasional dihentikan, insentif tersebut tidak lagi diterima.
Baca juga:Mahasiswi UIN Tulungagung Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Setelah Lembur Kerjakan Skripsi
“Selama tutup tiga minggu ini, kerugian yang dialami mitra bisa mencapai Rp100 juta. Relawan dapur SPPG juga tidak mendapatkan gaji,” ungkapnya.
Forum Komunikasi Mitra SPPG Tulungagung meminta pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) segera membuka kembali operasional dapur SPPG. Mereka menilai program tersebut tidak hanya mendukung pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.
Rifqi menegaskan pihaknya siap melakukan berbagai pembenahan sesuai arahan BGN, mulai dari peningkatan sarana dan prasarana hingga perbaikan tata kelola administrasi agar operasional dapur SPPG berjalan lebih baik dan transparan.
“Kami juga berharap agar kebijakan-kebijakan baru yang nantinya muncul dapat diterapkan secara lebih adil,” pungkasnya.
Para peserta aksi berharap proses evaluasi dan pembenahan yang dilakukan pemerintah dapat segera selesai sehingga program MBG kembali berjalan normal dan manfaat ekonominya kembali dirasakan oleh masyarakat Tulungagung.



















