Kang Mijek menerangkan, penggunaan air dawet melambangkan filosofi udari barang sing ruwet (mengurai segala persoalan yang rumit) agar kegelisahan warga terobati. Sementara topeng genderuwo melambangkan privasi ketulusan doa antara manusia dengan Sang Pencipta.
Ritual unik ini disempurnakan dengan tarian tradisional Kuda Lumping dan Tari Topeng Genderuwo sebagai sarana tolak bala. Konon, tradisi memandikan kucing ini menjadi satu dari tiga tradisi langka di Jawa untuk memanggil hujan selain tari Ujung dan wayang lakon Pecahe Watugunung.
“Dalam ajaran Jawa kuno, kucing dianggap hewan sakral penyeimbang alam yang tidak suka mandi. Ketika kucing dimandikan, ada asumsi spiritual agar keseimbangan alam tergerak dan hujan segera turun,” pungkas Kang Mijek.



















