Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Selain kekeringan, musim kemarau tahun ini juga berdampak pada turunnya debit air di bendungan Bendo, yang berada di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.
Baca Juga :Nahas Lansia Asal Kelurahan Jagalan Meregang Nyawa, KapolreK Gurah: Diduga Tabrak Lari
Dari data Balai Besar Bengawan Solo (BBWS) debit air bendungan yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 7 September 2021 lalu tersebut, volume airnya tersisa 50 persen dari kapasitas maksimal.
Adapun maksimal kapasitas volume air bendungan tersebut bisa mencapai 43.457.979,43 meter kubik, sedangkan saat ini tinggal 26.346.454,56 meter kubik. Kondisi tersebut dimungkinkan terus bertambah seiring belum adanya tanda-tanda musim hujan.
Baca Juga :Gerebek Rumah Kos, Satresnarkoba Polres Kediri Temukan Ribuan Butir Pil Dobel L di Dapur
Dengan turunnya debit air bendungan tersebut, salah satu yang sektor yang terdampak yakni pertanian di Bumi Reyog. Menanggapi hal tersebut Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyebut jika kondisi turunnya debit air bendungan merupakan hal yang wajar.
“Bendo menyusut itu kalau kemarau pasti menyusut. Karena suplai air dari atas berkurang. Tapi masih bisa berfungsi,” ungkap Sugiri Sancoko kepada wartawan, Jumat (6/9/2024).
Sugiri juga memastikan, kondisi tersebut tidak akan mempengaruhi sektor pertanian. Sebab diperkirakan volume air saat ini masih mampu mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian di enam kecamatan di Bumi Reyog
Baca Juga :DPRD Kota Kediri Proses Pembentukan Fraksi, Ketua Dewan Tak Benarkan Rumor Pemboikotan Anggota
“Memang tidak sebagus normalnya, tapi dipastikan air untuk pertanian tercukupi dan tidak mempengaruhi hasil pertanian,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan dan Holtikukturan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan), Tri Budi juga memastikan air Bendungan Bendo masih mampu mengairi sektor pertanian.
“Ada di 6 kecamatan dan semua aman-aman saja. 6 kecamatan itu ada di Kecamatan Sawoo, Sambit, Jetis, Mlarak, Siman dan Ponorogo kota,” Imbuhnya.
Baca Juga :Melihat Antusias Ratusan Umat Katolik di Jombang Ikuti Misa Online Bersama Paus Fransiskus
Secara rinci ada sekitar 2.000 hektare lahan yang bergantung pada aliran bendungan Bendo. Pun, selama ini tidak mengalami kendala terutama pasokan air sejak bendungan tersebut diresmikan, meski mengalami musim kemarau.
“Sumber masih ada terus dari atas, tapi ya tidak sebesar saat musim hujan. Dengan luas lahan yang dialiri 1900 sampai 2000 hektar,” tambahnya.
Lebih lanjut, di akhir tahun ini ribuan hektar itu saat ini sudah mulai ditanami padi dan jagung. Selain itu, untuk pertumbuhan selama musim kemarau tahun aman tidak ada kendala. Kemungkinan air bendungan akan kembali terisi di bulan November sering dengan masuknya musim hujan.
“Kalau pun menyusut aman sampai November. Kemudian musim panen dan tanam perkiraan volume air sudah bertambah karena sudah memasuki musim hujan, jadi aman tidak ada masalah” pungkasnya.



















