Blitar, SEJAHTERA.CO – Pembongkaran 486 makam di Dusun Bambang, Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar menjadi perjalanan sejarah proses pembangunan jalan layang Blitar-Malang.
Baca Juga :Untuk Masyarakat Ponorogo, Mulai Hari ini Harga LPG 3 Kg Naik
Sejarah karena jumlah makam yang dipindah dalam jumlah banyak dan rata-rata berusia puluhan dan ratusan tahun.
Nah, di balik proses pembongkaran makam yang menguras nyali itu tak sedikit ada hal-hal yang aneh alias mistis. Itu dialami para pekerja atau petugas yang tergabung dalam tim Kelompok Masyarakat Kramat Jati.
Tak jarang petugas mendapati hal-hal yang aneh dan di luar nalar. Maklum, makam yang terdampak proyek strategis nasional itu sudah lama “menghuni” di kawasan hutan masuk wilayah Perhutani.
Baca Juga :Ojol di Kota Batu Tewas Terlindas Bus Pariwisata, Begini Kejadiannya
Hal itu diakui sendiri Kepala Bidang atau Kabid Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar, Hakim Catur Yulianto.
DLH Kabupaten Blitar yang selama ini bersama pemerintah desa mendampingi proses pembongkaran dan pemindahan makam itu kerap diwaduli para pekerja.
Ketika melaksanakan tugas mulia itu, kerap mendengar tangisan di kompleks makam. “Ada yang merasa mendengar perempuan menangis. Dengarnya ketika hendak pulang ke rumah. Akhirnya penasaran,” katanya, Rabu (15/1/2025).


















