Blitar, SEJAHTERA.CO – Kreativitas ditunjukkan Purwadi. Warga Desa Popoh, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar ini memanfaatkan bambu dengan berbagai kerajinan. Mulai wakul hingga replica kapal. Produknya pun diminati tak hanya lokal tetapi juga regional.
Baca Juga :Jelang Babak 16 besar Liga 4 Jatim, Inter Kediri Gelar Pemusatan Latihan
Siapa yang tak tahu tanaman bambu. Tanaman yang berciri khas tinggi menjulang ini selain digunakan untuk perabotan rumah dan kayu bakar, ternyata juga bisa disulap menjadi kerajinan nilai sendiri. Nah salah satu perajin yang kini masih bertahan adalah Purwadi.
Di kampungnya dikenal sebagai perajin wakul dan kerajinan berbahan dasar bambu. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, kerajinan bambu yang biasa disebut dengan rospring itu kini bisa dibuat untuk replica kapal, aksesori lampu dan lain sebagainya.
“Dari bambu bisa dibuat kerajinan delapan jenis produk,” kata Purwadi.
Ya, darah perajin sudah lama mengalir di tubuh Purwadi. Kemampuannya itu didapat dari bapaknya. Di kampungnya bapaknya dulu dikenal sebagai perajin bambu. Itu terjadi pada 1999 lalu.
“Sejak tahun 1999 bapak memang hanya membuat kerajinan wakul dan alat-alat dapur. Kemampuan membuat kerajinan juga berkat didikan dari bapak,” katanya.
Seiring dengan perkembangan pasar, Purwadi pun memutuskan untuk membuat kerajinan produk baru. Selain digunakan untuk wakul dan perkakas dapur, bambu juga bisa dibuat untuk replica kapal. Itu diawali pada 2022 lalu.
Baca Juga :Kios Utara Makam Bung Karno Bakal Ditata Ulang, Ini Kata Kepala Disbudpar Kota Blitar
“Iya saya padukan produk lokal dengan modern. Dan ternyata pasar menyambut dengan positif,” kata pria kelahiran 35 tahun silam ini.
Saat ini sudah ada delapan produk berbahan dasar bambu. Seperti miniatur kapal, rantang bambu, wakul, rak bumbu, rak bawang. Selain itu, juga ada kotak pensil, kotak tisu, tas dari bambu.
“Sempat membuat miniatur rumah joglo yang masih belum dirilis, karena masih eksperimen yang lebih lanjut. Mudah-mudahan selesai,” katanya.
Baca Juga :Kios Utara Makam Bung Karno Bakal Ditata Ulang, Ini Kata Kepala Disbudpar Kota Blitar
Dia mengatakan proses pembuatan juga mudah. Bahan baku bambu juga melimpah. Sementara bengkel kerjanya di rumah. Untuk pembuatan produk bervariasi. Seperti untuk pembuatan miniatur kapal paling cepat satu hari satu produk. Sementara wakul paling cepat satu hari, bisa buat tujuh produk.
Untuk harga produk bervariasi. Mulai Rp 10 ribu hingga Rp 2 juta. Contoh wakul bambu ada 3 jenis, yakni ukuran hajatan, nasi matang setengah kilo, tiga perempat, satu kilo dan lima kilo. Wakul hajatan harganya dipatok Rp 25 ribu berukuran standar.
Terus untuk nasi matang setengah kilogram, tiga perempatan, satu kilo sampai 5 kilogram. Untuk yang lima kilogram dibanderol harga Rp 200 ribu per picis.
Baca Juga :Longsor Bambu di Jalan Raya Kedungsimbar, Akses Malang-Kediri Sementara Tutup Total
“Kalau miniatur kapal Rp 2 juta. Sementara ukuran panjangnya 1 atu meter model Dewaruci. Pembuatannya hampir sepuluh hari. Karena memang rumit,” kata bapak dua anak ini.
Saat ini, lanjutnya yang menjadi kendala adalah susahnya mencari pekerja. Utamanya yang memiliki sense of art atau naluri untuk membuat karya seni.
Meski begitu, pihaknya tak patah arang. Ada 3 pekerja sudah ada yang membantunya. Maklum, seiring dengan moncernya pemasaran via online, pesanan juga terus membanjir.
Baca Juga :Potongan Kaki Ditemukan di Ponorogo, Diduga Kuat Milik Korban Mutilasi di Kabupaten Ngawi
Untuk wakul bambu peminatnya dari luar Jawa. Seperti Kalimantan, Jawa Timur, Sidoarjo, Jawa Tengah Semarang. Sedangkan miniatur kapal yang banyak peminatnya daerah Lampung, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan untuk wakul besar banyak peminatnya dari Bali dan Semarang.
“Untuk produk yang terjual sekitar 100 per bulan. Sementar untuk omzet sekitar Rp 12 juta,” katanya.



















