*Kisah Mantan Bankir dari Jakarta, Juni Soekendar (I), Kalimat ‘Nyaris”, Tempat Paling Jujur bagi Manusia untuk Mengenal Dirinya

*Kisah Mantan Bankir dari Jakarta, Juni Soekendar (I), Kalimat ‘Nyaris”, Tempat Paling Jujur bagi Manusia untuk Mengenal Dirinya
Pelukis asal Jakarta, Juni Soekendar saat berpameran di Galeri Merah Putih – Kompleks Balai Pemuda Surabaya dengan tema Nyaris.

Kediri, SEJAHTERA.CO – Juni Soekendar (66), selama ini hampir tidak pernah terdengar namanya di Jawa Timur, utamanya Surabaya. Tiba-tiba menggelar pameran lukisan tunggal yang pertama di Surabaya. Karya yang ditampilkan didominasi bunga dengan tema unik, “Nyaris”. Dan tema ini sepertinya melekat di kehidupan sang pelukis. Berikut kisahnya.

Baca Juga :Persik Kediri Jamu Malut United di Stadion Brawijaya 

Selama dua pekan ini, Juni Soekendar berpameran lukisan tunggal yang pertama dan digelar di Galeri Merah Putih (GMP) – Kompleks Balai Pemuda Surabaya, bukan di Jakarta, hingga 11 September 2025.

Read More

Juni memajang sebanyak 20 karya yang dihasilkan mulai 2008 hingga yang terbaru tahun 2025. Tema pameran “Nyaris”, berhenti sejenak, tetap bergerak hingga harapan menjadi nyata.

Pembukaan pameran Juni dilakukan pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 16.00 oleh Ketua Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) Jawa Timur, Hj. Nunung Harso.

Pameran yang bakal berlangsung hingga 4 September 2025 ini, kata Manajer Humas GMP, Anto, pelukis mengajak menjelajah ke dalam ruang batin kehidupan lewat gambar-gambar bunga yang dia goreskan.

“Goresan yang dimaksut adalah mewakili rasa, bukan sekadar membuat bentuk dan menyampur warna namun juga memberikan roh di dalamnya,” begitu ujar Anto, seperti dituturkan Juni, pelukis.

Pameran Juni Soekendar di Surabaya dengan judul “Nyaris” ini, katanya, bukan tanpa alasan.

“Kita semua pernah berada di titik nyaris: nyaris menyerah, nyaris bahagia, nyaris pulih. Kata itu menyimpan keraguan sekaligus harapan, kekuatan sekaligus ketidaksempurnaan,” jelas Juni Soekendar.

“Dan di sanalah, saya rasa, tempat paling jujur bagi manusia untuk mengenal dirinya,” begitu pendapatnya.

Melukis adalah sebuah proses menyentuh rasa, bukan sekadar membuat bentuk, mencampur warna dan memberikan ruh di dalam lukisan tersebut.

Ruh yang sesungguh ada dalam diri sang pelukis. Dalam kegiatan tersebut atau melukis saat menyentuh kanvas, warna-warna bertemu, kita berhenti berpikir tentang hari kemarin dan esok kita hadir penuh di “sekarang”.

Harapan dalam melihat pameran lukisan yang ada di ruang pameran, bukan sekedar melihat lalu berpindah ke lukisan yang lain, Juni Sukendar mengajak anda untuk memunculkan “rasa “.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *