Rasa Anda yang hadir saat mengelilingi ruangan pameran, setidaknya berani memeluk/ mengenali satu ciptaan dari Allah SWT, yaitu “Rasa” yang ada dalam diri.
Beberapa karya di sini mungkin tidak sempurna. Tapi bukankah hidup juga tidak selalu tentang kesempurnaan?.
Biarlah setiap goresan dan bunga dalam lukisan ini menjadi bahasa bisu yang menyapa Anda dari hati ke hati.
Berikut sebagian lukisan Juni yang dipamerkan:
Karya “Diantara Tegar dan Rapuh”, menjadi kuat atau lemah adalah pilihan. Tumbuh. tegar dan rapuh, tetaplah mekar untuk hari esok yang indah.
Karya “Menyimpan Rindu”, setiap kenangan menyimpan rindu, cinta & rindu sebuah anugrah. Tidak perlu dicari ada dalam diri. Izinkan saja bertumbuh dan akan menemukan jalannya.
Karya “Tidak Selalu Utuh”, keindahan tak selalu datang dari yang utuh justru dari yang berani tumbuh meski belum selesai, ikuti saja alurnya.
Karya “Soal Rasa yang Tidak Sederhana”, rasa tak pernah diam, memancar dan bergerak. Dia tumbuh seperti bunga, mekar dengan jalannya dengan diam, merawat rasa sama mendengar nuranimu.
Karya “Nyaris Mekar Sempurna”. Diambang mekar setiap kelopak menyimpan rasa, rasa perlu diungkapkan.
Karya yang dibuat tahun 2008 ini, didominasi kelopak bunga putih yang hampir mekar semua. Tapi ada “cacatnya”,yaitu pas atau pot bunganya pecah.
Mungkin ini yang dapat dikatakan “nyaris”. Karena kesempurnaan itu bukan ada pada manusia atau pelukisnya tapi hanya milik-Nya.
Lalu karya “Pusat dari Segala Rasa”. Tidak semua aspek kehidupan bisa dilalui, terkadang ditunda terlebih dahulu bahkan tidak sama sekali.
Catatan: Lalu, apakah “Nyaris” benar terjadi pada diri Juni Soekendar?. Ikuti terus kisahnya…



















