Durian Fantasi di Kebun Durian Tengah Kota Batu, Setahun Menyemai Edukasi dan Rasa

Durian Fantasi di Kebun Durian Tengah Kota Batu, Setahun Menyemai Edukasi dan Rasa
Pengunjung sedang menikmati pemandangan Agrowisata Durian Fantasi. (Foto: Sholeh)

Batu, SEJAHTERA.CO – Di Kota Batu, Jawa Timur, ada sebuah kebun durian yang tak lagi sekadar menghasilkan buah. Ia tumbuh menjadi ruang belajar, tempat bersantai, sekaligus destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berbeda.

Namanya Durian Fantasi, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Dufan. Tepat pada usia satu tahun, Dufan menegaskan dirinya sebagai contoh bagaimana pariwisata bisa berkembang tanpa harus mengorbankan alam.

Dufan resmi dibuka pada 20 Desember 2024. Dalam waktu setahun, destinasi ini perlahan mencuri perhatian para pecinta durian, wisatawan keluarga, hingga mereka yang sekadar ingin menikmati suasana hijau di tengah kota. Bukan tanpa alasan. Di sini, durian tak hanya disantap, tetapi juga dipelajari, dirawat, dan dimaknai dari hulu hingga hilir.

Read More

Konseptor Dufan, Sudjono Djonet, menyebut tempat ini sejak awal memang berangkat dari kebun durian yang sudah ada. Alih-alih mengubah fungsi lahan, ia memilih memaksimalkannya.

“Di lokasi ini awalnya memang lahan durian, itu yang kami manfaatkan hingga menjadi nama Dufan. Ini contoh bahwa membangun pariwisata tidak harus mengubah fungsi,” ujarnya, Senin (29/12/2025).

Dengan luas sekitar 8.000 meter persegi, kebun durian itu disulap menjadi agrowisata edukasi yang tertata rapi dan ramah kamera. Jalur pejalan kaki, sudut-sudut hijau, serta zona pembibitan dirancang agar pengunjung bisa menikmati alam sekaligus mendapatkan pengetahuan baru.

Di zona pembibitan, pengunjung diajak mengenal berbagai varietas durian premium. Musang King, Bawor, Montong, hingga Black Thorn diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan durian Nusantara dan Asia. Tak sekadar melihat, wisatawan juga diajak memahami karakter tiap varietas, mulai dari bentuk, aroma, hingga potensi ekonominya.

Namun pengalaman di Dufan tak berhenti di pohon. Pengunjung dikenalkan pada proses pascapanen dan pengolahan durian menjadi berbagai produk turunan. Dari sinilah nilai tambah durian diperlihatkan—bahwa buah ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga peluang ekonomi.

Filosofi utama Dufan justru terasa setelah durian selesai disantap. Kulit, biji, hingga sisa olahan tak serta-merta dibuang. Djonet menjelaskan, Dufan menerapkan prinsip zero waste sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Semua bagian durian dimanfaatkan kembali, baik untuk kompos, bahan olahan, maupun edukasi lingkungan.

“Konsepnya menumbuhkan zero waste guna menjalankan prinsip ekonomi sirkular,” katanya. Pendekatan ini membuat Dufan tak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang pembelajaran tentang keberlanjutan.

Soal kuliner, Dufan menawarkan beragam olahan durian sebagai menu andalan. Mulai dari ketan durian, pancake durian, kolak durian, hingga berbagai kreasi lainnya.

Aroma manis durian kerap menyambut pengunjung sejak memasuki area kebun. Bagi mereka yang kurang menyukai durian, tersedia pula pilihan menu lain, sehingga Dufan tetap ramah untuk semua kalangan.

“Kalau dulu makan durian di pinggir jalan, sekarang bisa makan durian di kebun yang berada di tengah kota,” ujar Djonet, menggambarkan pengalaman yang ingin dihadirkan Dufan.

Dari sisi akses, Dufan tergolong ramah di kantong. Tiket masuk dipatok Rp15 ribu, dengan cashback berupa voucher makan senilai Rp5 ribu. Dufan buka setiap hari mulai pukul 14.00 hingga 22.00 WIB, menjadi pilihan destinasi sore hingga malam hari bagi warga lokal maupun wisatawan.

Setahun berjalan, Durian Fantasi telah menjelma menjadi lebih dari sekadar tempat makan durian. Ia adalah cerita tentang kebun yang dipertahankan, edukasi yang ditumbuhkan, dan pariwisata yang dirancang agar selaras dengan alam. Di tengah geliat wisata Kota Batu, Dufan menawarkan satu pesan sederhana: rasa bisa dinikmati, alam tetap dijaga.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *