Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Curah hujan yang sudah mengguyur wilayah Kabupaten Trenggalek belum sepenuhnya mengentaskan kekeringan. Sebab hingga kini terdapat 18 desa di 8 kecamatan yang dilaporkan masih terdampak kekeringan merujuk laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek.
Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono mengatakan, 18 desa yang masih terdampak kekeringan itu adalah Desa Srabah dan Desa Depok di Kecamatan Bendungan, Desa Prambon, Desa Dermosari, Desa Duren dan Desa Gading di Kecamatan Tugu, Desa Besuki, Desa Ngrencak, Desa Kertosono, Desa Panggul serta Desa Karangtengah di Kecamatan Panggul.
“Kemudian ada Desa Tanggaran di Kecamatan Pule, Desa Mlinjon di Kecamatan Suruh, Desa Panggul dan Pandean di Kecamatan Dongko, Desa Pogalan di Kecamatan Pogalan serta di Kecamatan Watulimo ada Desa Gemaharjo dan Desa Ngembel,” kata Triadi, Senin (18/12).
Jumlah itu mengalami penurunan jika dibandingkan dengan laporan BPBD Trenggalek per 26 November 2023 yaitu sebanyak 42 desa atau kelurahan dari 13 kecamatan. Masih adanya wilayah terdampak itu, lanjut Triadi, dipengaruhi belum meratanya curah hujan yang mengguyur wilayah Bumi Menak Sopal.
Sebab, merujuk laporan BMKG Stasion Meteorologi Kelas I Juanda, hujan di Trenggalek terbagi beberapa zona musim. “Ada yang November II dan III, kemudian Desember I dan II,” imbuhnya.
Belasan desa yang masih terdampak kekeringan itu merujuk laporan permintaan bantuan pengiriman suplai air bersih.
Triadi menyebut, pengiriman bantuan air bersih itu tak serta merta dilakukan karena ada proses auditor di lapangan untuk memastikan daerah terdampak layak menerima bantuan air bersih.
Dari hasil verifikasi di lapangan, di daerah itu masih banyak sumber air yang belum bisa diakses masyarakat.



















