Hore…!, 381 Warga Plosorejo Kabupaten Kediri Terima Bantuan Pangan Beras, Kok Ada Yang Ngroweng?, Ini Lho Penyebabnya

Kediri, SEJAHTERA.CO – Suasana ceria dan riang gembira mewarnai Balai Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Sabtu (3/2/2024).

 

Betapa tidak, sebanyak 381 jiwa atau warga Desa Plosorejo, Kabupaten Kediri menerima bantuan pangan beras, masing-masing 10 kilogram.

Read More

Bantuan pangan beras dari Pemerintah RI c/q Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI untuk warga Desa Plosorejo, Kabupaten Kediri, disalurkan oleh PT Artha Yasa Trimanunggal (YAT).

Pengambilan atau penerimaan bantuan pangan nasional di Balai Desa Plosorejo, Kabupaten Kediri ini juga tanpa dipungut biaya apapun.

 

Setiap warga yang menerima bantuan pangan beras, namanya sudah tertera pada undangan atau pemberitahuan dari Bulog, Bapanas dan YAT.

Dengan jumlah warga sebanyak 381 jiwa maka bantuan pangan beras yang disalurkan mencapai 3,810 ton yang dimulai pukul 07.30 hingga selesai.

Dari ratusan penerima bantuan pangan beras di Desa Plosorejo ini, memang tidak semuanya mendapatkan. Banyak juga tidak tidak menerima, jika dilihat dari kondisi ekonomi.

 

Dengan begitu, mereka yang tidak menerima, pikirannya macam-macam. Ada yang menuduh pihak desa tidak adil, pilih kasih dan lainnya.

“Ya mesti pihak desa to yang mengusulkan dapat bantuan itu. Lha kalau tidak desa apa tahu orang di atas sana,” kata seorang ibu, Sabtu (3/2/2024).

“Kakak saya, suami istri bekerja, malah mendapat bantuan. Sementara saya dan (menunjuk nama-nama janda) tidak mendapatkan bantuan pangan beras,” katanya atau istilah warga ngroweng (ngedumel).

 

Bahkan ada warga yang mestinya tidak layak mendapatkan bantuan, kali ini justru mendapat bantuan. Karena salah satu warga ini memiliki usaha yang cukup besar di desa.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo, Drs Arif Siregar, SE, Ak, hanya tersenyum ketika diminta komentar tentang warganya yang “ngomel” karena tidak mendapat bantuan pangan beras.

Menurut Arif, nama-nama yang tertera pada undangan, bukan buatan desa. Desa tidak tahu apa-apa. “Desa hanya menerus undangan dari Bulog atau Bapanas,” katanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *