Sedangkan soal yel-yel paslon yang dinyanyikan bersama kades tersebut, TG mengaku jika itu spontanitas dan tanpa disengaja. Dia mengaku lupa jika di sana terdapat kades, tapi karena asyik dengan euforia yang ada, dinyanyikanlah yel-yel itu.
TG memastikan jika kades tersebut juga tidak ikut menyanyikan yel-yel bersama warga yang ada di warkop tersebut. “Cuma kami yang menyanyikan yel-yel itu, dia (Kades) tidak dan hanya duduk diam saja,” tutupnya.
Sementara itu, Kades Kradinan, Eko Sujarwo mengaku, dirinya ada dalam video yang beredar tersebut dan tengah mengenakan kaos salah satu paslon. Namun, pihaknya menyangkal adanya pelanggaran netralitas dan hanya bentuk spontanitas, karena saat itu dia hanya mampir di warung kopi langganannya.
Pada saat itu, tanpa sengaja di sana juga ada mantan seniornya saat bekerja di Dinas Pertanian Tulungagung beberapa tahun silam, sehingga pihaknya menghormati seniornya itu dan mengenakan kaos tersebut. Namun, Eko hanya memakai kaos itu selama lima menit dan kemudian melepasnya.
“Saya memang langganan ngopi di sana, jadi bisa bertemu warga dan mendengar keluh kesahnya. Tapi saat itu ada mantan senior saya dan saya dipanggil untuk bergabung, sehingga saya menghormati beliau,” kata Eko Sujarwo.
Disinggung soal penggalangan suara pemenangan salah satu paslon, Eko menyebut, tidak melakukan upaya itu dan hanya berniat untuk ngopi saja. Dia paham betul jika perangkat desa tidak boleh memihak salah satu paslon presiden dan wakil presiden untuk memenangkan salah satu paslon.
Maka dari itu, selama dimintai klarifikasi oleh pihak Bawaslu Tulungagung, dia terus menerus menegaskan jika dirinya netral dan tidak memihak kubu manapun. Terlebih dalam video tersebut, pihaknya juga hanya menunduk saat para pengunjung di warkop itu meneriakkan yel-yel pemenangan paslon tersebut.
“Bisa dilihat di videonya, saya cuma menunduk saat mereka bersorak sorai untuk kemenangan paslon yang dibelanya. Jadi memang tidak ada unsur kesengajaan dan saya memakai baju itupun murni spontanitas,” ujarnya.
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Dhita Septiadarma



















