“Kondisi itu rentan mempengaruhi kalangan milenial dan Gen-Z yang mendominasi penggunaan teknologi,” imbuhnya.
Oleh karena itu dibutuhkan kewaspadaan dini dari seluruh komponen anak bangsa untuk bersatu padu.
Baik dari pemerintah, ulama atau tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun warga masyarakat sendiri dalam menangkal setiap pergerakan atau propaganda-propaganda dari gerakan radikalisme.
“Kita teguhkan kembali bahwa Ideologi Pancasila yang dicetuskan oleh founding father adalah ideologi yang paling relevan sekaligus sebagai filter untuk membendung gerakan radikalisme maupun terorisme,” pungkasnya.
Sementara, Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhammad Natanegara berharap, peserta dalam seminar itu dapat menularkan materi minimal kepada teman maupun lingkungannya sehingga upaya pencegahan paham radikal hingga akar bawah dapat maksimal.
Dengan begitu, paham-paham radikal yang mengarah pada aksi terorisme tak punya ruang di bumi pertiwi.
“Radikalisme maupun terorisme tidak hanya menimbulkan rasa takut maupun kerugian material dan nyawa. Tetapi juga mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara serta merusak ikatan persaudaraan dan nilai-nilai toleransi yang sejatinya menjadi kultur budaya bangsa ini,” kata Mas Syah, sapaan akrabnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor : Gimo Hadiwibowo



















