Baca Juga :Melesat, Usaha Kafe dan Resto di Kota Blitar, Sektor Wisata dan Hotel yang Banyak jadi Pemicu
Pria yang juga aktivis ini menambahkan, baginya benda atau bangunan peninggalan bersejarah harus dilestarikan. Di sinilah peran dari pemerintah.
Pemerintah harus hadir untuk menjadikan peninggalan Sejarah tak lekang oleh waktu tetap Lestari.
Salah satu caranya dengan memasukkan ke kurikulum atau muatan lokal. Dengan harapan menjadi media pembelajaran bagi generasi muda. Utamanya para siswa SD hingga SMA hingga perguruan tinggi.
“Candi bersejarah memang harus menjadi media pembelajaran atau edukasi Sejarah,” katanya.
Baca Juga :Longsor Terjang Jalan Poros Trenggalek – Bendungan Meski Tak Ada Hujan, Ternyata Ini Pemicunya
Nantinya, lanjut Ghoni, bakal membuat acara untuk mengenalkan candi lebih dikenal lagi. Itu sebagai bentuk komitmennya untuk melestarikan peninggalan Sejarah agar tetap Lestari.
Candi Simping sendiri ditemukan kembali oleh Johannes Elias Teijsmann pada tahun 1854. Saat ditemukan kondisinya sudah runtuh. Candi Simping masih banyak ada relief-relief indah yang menghiasi batu andesit candi masih dapat dipelajari.



















