Baca Juga :Tahun ini, Ratusan ASN Pemkab Blitar Pensiun, Salah Satunya Sekda
Untuk pembuatannya juga gampang. Abu dicampur menggunakan semen dan tetes tebu. Itu untuk membentuk kerajinan agar padat. Selanjutnya, abu dimasukkan ke cetakan yang telah disiapkan. Usai padat dan kering, dilepas dan dibersihkan.
Terakhir kali adalah tinggal pewarnaan. “Mudah kok pembuatannya. Yang penting telaten,” ujar pria yang juga pengurus komunitas Sedulur Karang Taruna (Sekata) Blitar Raya ini.
Semula karyanya, hanya untuk koleksi sendiri. Ternyata banyak perangkat desa yang keblinger dengan kerajinannya. Utamanya pemerintah desa di wilayah Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.
Baca Juga :Dua Bersaudara Perempuan di Ngadiluwih Ditemukan Tewas Membusuk
Bahkan, dirinya menyebut hampir semua pemeritah desa di Kecamatan Kanigoro juga kesengsem dengan kerajinannya. Selain karena unik juga mencerminkan kreatifitas dan setidaknya menjadi pelecut warga agar bisa memanfaatkan barang-barang yang selama ini dianggap tak berguna.
Sasaran pemasaran pemerintah desa, karena setidaknya menjadi pemicu agar warganya ikut mengenal kekayaan Kabupaten Blitar. Salah satunya Candi Penataran. “Sementara di pemerintah desa, selanjutnya bisa ke dinas-dinas. Utamanya miniatur patung burung garuda,” katanya.
Soal harga, juga tergolong murah. Harga kerajinan miniatur candi dijual Rp 75 ribu per biji. Sementara miniatur burung garuda dijual dengan harga Rp 150 ribu per biji. Dia menyebut, hasil karyanya lebih padat tetapi ringan. Selain itu juga awet.
Baca Juga :Pasutri Asal Sidoarjo Otaki Perdagangan Bayi di Kota Batu, ini Motifnya
Dirinya yakin prospek kerajinan berbahan abu cerah. Karena tak banyak yang menekuni. Apalagi, berbahan dasar limbah yang mudah didapatkan.
“Daripada dibuang begitu saja, lebih baik dimanfaatkan dan bisa mendatangkan pendapatan,” kata Sunalis yang 10 menjadi pengolah sampah di TPSP ini.



















