Surabaya, SEJAHTERA.CO – Triyoso Yusuf, pelukis berkarakter dari Jombang pameran tunggal di Surabaya, tepatnya di Galeri Merah Putih –Kompleks Alun-alun Surabaya.
Pameran Triyoso Yusuf yang berlangsung pada 8 – 13 Februari 2025 banyak mengangkat kesenian wayang kulit dan kearifan lokal, utamanya di kawasan atau ikon Kabupaten Jombang, yaitu Wonosalam.
Pameran tunggal yang bertema Dolan Wonosalam ini menghadirkan sejumlah karya masterpiece-nya, di antaranya Bancakan Salak Galengdowo.
Baca Juga :Mal Pelayanan Publik Sudah Dibuka, ini Jenis Layanan yang Tersedia
Kemudian karya Kenduren Wonosalam (Kenduri Durian) langsung memikat salah seorang kolektor bernama Indah saat pembukaan.
“Menikmati lukisan pesta durian atau kenduri durian itu, membuat saya terasa larut ke dalam acara pesta durian,” kata Endah.
Menikmati lukiaan karya Triyoso Yusuf, kata Endah, mengingatkannya pada karya pelukis besar seperti Affandi (Yogyakarta) dan Antonio Blanco (Bali).
“Style lukisannya mengingatkan saya ketika mengunjungi Museum Affandi dan Antonio Blanco. Mirip dengan gaya lukisan sang maestro,” ujar Endah.
Baca Juga :Dinkes Ponorogo Buka Layanan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga yang Berulang Tahun
Triyoso Yusuf pun tak mengelak terkait apa yang digambarkan Indah, sang kolektornya.
Karena dalam berkarya, Triyoso Yusuf memang berkiblat pada tiga maestro lukis Indonesia, yakni Affandi, Antonio Blanco, dan Hendra Gunawan.
“Saya memadukan ketiga gaya itu untuk menciptakan style sendiri,” kata Triyoso Yusuf, yang mengaku belajar melukis sejak SD dibimbing ayahnya (alm) Soedjadi Darijanto, ketika di Wonosalam, Jombang.



















