Secara teknis, gaya lukisannya sengaja tak mengikuti pakem. Ada distorsi anatomi dalam mencipta figur dan liarnya garis serta semburatnya warna.
Misalnya, bentuk leher dan jari-jari dibuat panjang, tak seanatomis ukuran normal manusia.
Baca Juga :Kota Blitar Mulai Terapkan Program Diet Sampah, Seperti ini Langkahnya
gaya itu untuk memunculkan sepenuhnya rasa dari objek lukisan,” kata Triyoso yang memutuskan diri sebagai pelukis sejak tahun 2016.
Sebelumnya, dia adalah desainer grafis di biro advertising sejak lulus SMKN 12 Surabaya.
Selama 18 tahun, dia berkiprah menciptakan desain produk kemasan berbagai komoditi. Salah satu yang dicipta adalah desain biskuit UBM dan AIM.
Dia menyebut, di masa itu sebagai pelukis digital, karena melukis dengan aplikasi Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Corel Draw, Macro Media, dan Free Hand.
Baca Juga :Pengesahan RUU Kejaksaan dan RUU KUHAP Wajib Ditunda, Kembalikan Proposional Sesuai Tupoksi Awal
Dia juga pelukis cahaya karena bekerja dengan kamera digital DSLR dan lighting studio. Pada tahun 2016, dia beralih ke media kanvas karena pekerjaan desain mulai sepi.
Saat itu dia ikut pameran di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2016 menampilkan delapan karyanya bertema wayang purwa.
“Semua lukisan terjual, hasilnya lumayan. Selain untuk biaya operasi kelahiran anak ragil nomer empat, yang lainnya untuk memperpanjang nafas keluarga,” kenang Tri yang menyebut dirinya adalah pelukis yang dilahirkan PSLI.



















