“Kalau ada permintaan, kami juga bisa mencampur kayu sesuai permintaan pelanggan. Seperti dari Surabaya untuk restoran maupun rumah makan, sedangkan untuk permintaan besar yang diekspor, kami biasanya bekerja sama dengan teman-teman pembuat arang di seputar Jawa Timur,” paparnya.
Nur juga menjelaskan bahwa untuk permintaan ekspor, biasanya menggunakan kayu khusus seperti kayu tamarin atau kayu asam yang harganya lebih mahal.
Baca Juga :Dua Bulan Temukan Tiga Kasus Malaria, Hasil Telusur Pernah Tinggal di Daerah Endemik
“Harga arang kayu tamarin berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, sedangkan arang kayu biasa harganya Rp 3.000 hingga Rp 3.200 per kilogram,” beber Nur Muslikah.
Dengan potensi yang dimiliki, pembuatan arang di Jombang tidak hanya menjadi solusi untuk mengatasi limbah kayu, tetapi juga sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Dengan mengolah kayu menjadi arang, para pengrajin juga mengatakan tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan.
Baca Juga :Mengulik Keberadaan Patung Kiai yang Sering Jadi Bahan Ritual di Klenteng Jombang
“Manfaat arang ini selain digunakan sebagai bahan bakar yang efisien, juga dapat dimanfaatkan dalam pertanian sebagai pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah,” pungkasnya.



















