“Tahun lalu, nilai ekspor Kota Soto senilai 20,7 triliun rupiah, menunjukkan bahwa kita masih cukup tangguh dalam menghadapi ketidakpastian kondisi pasar global. Tentu harapannya di tahun ini bisa mempertahankan dan meningkatkan,” tegasnya.
Menyadari tantangan global yang ada, Pemerintah Kabupaten Lamongan berinisiatif untuk memfasilitasi komunikasi, konsultasi, dan berbagi informasi antara perusahaan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait melalui Lamongan Exportiva season II.
Ajang ini tidak hanya menampilkan potensi dan produk UMKM unggulan Lamongan, tetapi juga menjadi forum edukasi dan sharing seputar ekspor dengan berbagai pihak, termasuk Bea Cukai.
Baca Juga :Kurator PR Bokormas: Aset Perusahaan yang Dilelang Belum Laku Jual
“Exportiva season II yang akan dibuka selama lima hari ke depan diharapkan akan mampu membuka kesempatan pada masyarakat. Di sini juga akan disediakan beberapa konsultan, termasuk dari Bea Cukai, mengenai tata cara ekspor, dokumen yang diperlukan, dan lain sebagainya,” jelas Pak Yes.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lamongan, Anang Taufik, menyampaikan bahwa saat ini sudah ada seratus Industri Kecil Menengah (IKM) yang berhasil lolos kurasi untuk ekspor.
Ia menambahkan bahwa selama Expo Lamongan Exportiva season II, pihaknya juga akan mensosialisasikan program – program prioritas daerah.
Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat melihat langsung potensi-potensi yang dimiliki Kabupaten Lamongan, sekaligus menarik minat para investor.
Baca Juga :Pemkot Batu Kekurangan Nakes Kebidanan, ini Langkah yang Ditempuh
“Adapun perusahaan dan UMKM yang turut serta dalam pelepasan ekspor perdana kali ini adalah PT Bumi Menara Internusa, PT Shoetown Mustika Indonesia, PT Quality Works, PT. Citi Plumb, PT Buildyet, PT Tiga Berlian Anugrah Jaya, UMKM Koko Nono, Kirana, Soeart, Ansa, dan Paradila,” jelasnya.



















