Produksi tasbih dilakukan secara manual, mulai dari pemilihan bahan, penggergajian, pengukiran, penghalusan, hingga proses finishing. Pasar produknya tidak hanya di Jawa, tetapi juga sudah menjangkau luar negeri seperti Arab Saudi.
Dengan lonjakan permintaan ini, omzet yang diperoleh Fatchur dari usaha tasbih bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta per bulan selama musim haji.
Baca Juga :Jelang Kurban, DKPP Kota Blitar Imbau Jaga Kebersihan Hewan dan Kandang
Bagi Fatchur, usaha rumahan ini bukan sekadar bisnis, tapi juga sarana menyalurkan kreativitas dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Kuncinya telaten dan menjaga kualitas. Kalau konsisten, hasilnya bisa luar biasa,” tandasnya.
Salah satu pelanggan, Annisa Nur Rahmah, mengaku tertarik dengan tasbih gaharu dan cendana karena kualitas dan aromanya.
“Kan ada kerabat yang naik haji. Jadi ini disiapkan untuk oleh-oleh tamu yang datang. Suka aromanya khas dan kualitasnya bagus,” pungkasnya.



















