KOTASEJUK Tolak Pembongkaran Jembatan Lama Kertosono, Usulkan Pemugaran

KOTASEJUK Tolak Pembongkaran Jembatan Lama Kertosono, Usulkan Pemugaran
Banner penolakan pembongkaran jembatan lama Kertosono yang dipampang di sekitar lokasi.(Inna/sejahtera.co)

Nganjuk, SEJAHTERA.CO – Di tepi sungai yang membelah Kertosono, berdiri sebuah jembatan tua yang telah menyaksikan denyut kehidupan masyarakat selama puluhan tahun.

Bagi warga setempat, Jembatan Lama Kertosono, akrab disebut Treteg Kertosono, bukan sekadar penghubung antarwilayah. Ia adalah saksi bisu sejarah, pengingat masa lalu, dan bagian dari identitas Nganjuk yang tak tergantikan.

Namun, kabar rencana pembongkaran jembatan ini mengusik hati banyak pihak. Salah satunya, Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (KOTASEJUK). Mereka menolak keras wacana tersebut, khawatir pembongkaran akan menghapus jejak sejarah yang tersisa.

Read More

“Jembatan Lama Kertosono memenuhi kriteria untuk diusulkan sebagai cagar budaya,” tegas Sukadi, Humas KOTASEJUK, sambil menatap ke arah konstruksi besi yang mulai dimakan usia.

Baca Juga :Ditinggal Pergi ke Kelurahan, Rumah Warga Lirboyo Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

Ia merujuk Pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang mengatur bahwa bangunan berusia lebih dari 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, dan bernilai budaya, layak dilindungi.

Meski saat ini jembatan tersebut baru berstatus Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB), Sukadi menekankan bahwa perlakuan pelestarian seharusnya sama seperti cagar budaya yang sudah ditetapkan.

“Di Nganjuk baru ada tiga peninggalan yang diakui sebagai cagar budaya: Masjid Al Mubarok Berbek, Candi Lor Loceret, dan Candi Ngetos. Padahal banyak warisan lain yang layak dilindungi,” tambahnya.

Alih-alih dibongkar, KOTASEJUK mengusulkan agar jembatan dipugar. Pemugaran dianggap solusi ideal untuk menjaga kondisi fisik tanpa mengubah konteks sejarah.

Baca Juga :Mayat Perempuan Setengah Telanjang Gegerkan Warga Sampung Ponorogo, Diduga Dibunuh

“Kalau mau bangun jembatan baru, silakan. Tapi jangan di lokasi yang sama. Bangun di kanan atau kiri jembatan lama, biar keduanya berdiri berdampingan,” ujarnya.

Usulan ini rupanya mendapat angin segar. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Nganjuk turut mendukung langkah pelestarian tersebut. Mereka sepakat, pembangunan boleh dilakukan asalkan tidak merusak nilai sejarah yang melekat pada jembatan tua itu.

Di tengah derasnya arus pembangunan, suara-suara seperti yang disuarakan KOTASEJUK menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan masa lalu.

Baca Juga :Kepala Staf Kodam V/Brawijaya Tinjau Lokasi TMMD di Ngusikan

Treteg Kertosono mungkin sudah renta, namun bagi banyak warga, ia masih tegap berdiri sebagai penghubung, bukan hanya antara dua tepian sungai, tetapi juga antara generasi yang lalu dan yang akan datang.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *