“Industri tahu di Desa Mayangan menghasilkan 1,2 juta liter air limbah per hari. Ini ancaman serius bagi keberlanjutan Sungai Brantas,” ujarnya.
Baca Juga :Pemohon SKCK di Polsek Ngadiluwih Meningkat
Dengan dana CSR PGN senilai Rp7,7 miliar, pembangunan IPAL ditargetkan menekan volume limbah dari 1,26 juta liter per hari menjadi 995 ribu liter.
Beban pencemar yang sebelumnya 1.533 ton BOD per tahun juga diproyeksikan turun menjadi 969 ton per tahun. Selain itu, KLHK memberi perhatian pada efisiensi penggunaan air, pemanfaatan limbah untuk biogas, serta penguatan kelembagaan paguyuban pengrajin tahu.
Bupati Jombang, Warsubi, menegaskan bahwa industri tahu merupakan ikon ekonomi lokal sejak 1970 dengan 88 unit usaha tersebar di Desa Mayangan, Sumbermulyo, dan Ngumpul, Kecamatan Jogoroto.
Namun, produksi tahu juga menghasilkan limbah hingga 1,76 juta liter per hari yang memengaruhi kualitas air sungai.
Baca Juga :RSUD Karsa Husada Batu Wajah Baru Kemegahan Layanan Kesehatan Milik Provinsi Jatim
“Pemkab Jombang berkomitmen menangani persoalan limbah melalui pembangunan IPAL, pemanfaatan biogas, dan langkah darurat pencemaran. Meski dihadapkan keterbatasan anggaran, kami dorong penguatan koperasi pengrajin tahu agar lebih mandiri,” tandas Warsubi.



















