Penelusuran ini pun berbuah temuan-temuan emosional, mulai dari makam Mbok Suwi—pengasuh masa kecil Bung Karno—hingga sosok misterius Kek Suro yang menjadi saksi kunci kelahiran Putra Sang Fajar.
Baca Juga Petugas Gabungan Razia Tempat Hiburan Malam di Barat Sungai
“Gus Binhad dan keluarga Situs Persada Soekarno Kediri juga banyak melakukan penelusuran, kemudian menemukan makam Mbok Suwi, orang yang mengasuh Bung Karno kecil berikut keluarganya. Mereka juga menemukan makam Mbah Joyodipo, teman masa kecil Bung Karno di Ploso,” urai Cak Arif.
Klimaks dari pencarian sosok saksi kelahiran itu terjadi di wilayah Kabuh, Jombang. “Jadi ketika foto Kek Suro ini ketemu, seolah menjawab misteri itu,” tuturnya.
Dedikasi Cak Arif naik ke level formal saat ia bergabung dalam Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang. Ia bergerak lincah mendaftarkan narasi sejarah ini ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar memiliki payung hukum yang kuat.
“Secara resmi TACB Kabupaten Jombang pada tahun 2024 melakukan kajian. Kami juga sudah keliling untuk menemui keluarga Bung Karno yang ada di Blitar, Kediri, Bali, dan Jakarta,” rincinya mengenai proses verifikasi lapangan.
Hasilnya pun berbuah manis. “Dan akhirnya pada sekitar September 2024, TACB Kabupaten Jombang mengeluarkan kajian dan rekomendasi penetapan Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang menjadi cagar budaya peringkat kabupaten,” tandas Cak Arif.
Baca Juga Normalisasi Sekaligus Bersihkan Sampah yang Hambat Aliran Sungai
Kini, bola sejarah telah bergulir hingga ke meja Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan mantan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Harapannya hanya satu: sebuah pelurusan sejarah yang diakui negara secara total.
“Sehingga Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang dapat ditetapkan menjadi cagar budaya. Dan juga terjadi pelurusan sejarah tentang tempat dan waktu kelahiran Sang Proklamator secara terstruktur, sistematis, dan masif,” pungkas Cak Arif menutup perbincangan.



















