“Temuan warga yang menolak vaksinasi ini tidak hanya di wilayah pedesaan saja, karena di perkotaan pun juga ada dan sifatnya menyebar di hampir semua wilayah,” ungkapnya.
Terkait alasannya, Aris menyebut, mayoritas warga yang menolak vaksin itu alasannya karena cara pandang keyakinan yang berbeda, seperti mengganggap vaksin itu haram hingga vaksin sebabkan penerimanya terkena penyakit.
Namun, beberapa di antara mereka pada akhirnya tetap menerima vaksin campak apabila sudah terkena campak.
Meski begitu, saat ini pihaknya pelan-pelan memberikan edukasi yang tepat bagi masyarakat yang menolak vaksinasi agar mau menerimanya, mengingat demi kebaikan penerimanya.
Selain itu, pihaknya juga akan menggandeng lembaga atau orang yang dianggap memiliki pengaruh di lingkungan, dengan harapan dapat meningkatkan cakupan sasaran vaksinasi.
Baca Juga :Halalbihalal Pasca-Operasi Ketupat, Leburkan Khilaf dalam Barisan
“Ketika menggandeng lembaga atau orang yang ditokohkan di lingkungan, diharapkan dapat menyampaikan program vaksin dengan tepat kepada warga,” ujarnya.
Aris menegaskan, pemberian vaksinasi sebenarnya memiliki tujuan untuk memproteksi diri dari virus, sehingga tubuh dapat membuat antibodi terhadap virus tertentu.
Dengan begitu, respon tubuh dari penerima vaksin ini bisa semakin kuat apabila terkena virus, sehingga penyakit bisa dengan cepat sembuh.
Pihaknya juga mengingatkan jika masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin bukan berarti memiliki tubuh yang kebal terhadap penyakit dan tidak akan sakit setelah mendapatkan vaksin.
Namun, kinerja vaksin sebenarnya hanya agar penerimanya tidak sampai sakit parah apabila terkena virus dan bisa sembuh dengan cepat.
Baca Juga :ASN Pemkab Ponorogo Masih Bekerja Normal, Kebijakan WFH Tunggu Aturan Pusat
“Vaksin tidak menjadi jaminan tubuh kebal dari penyakit. Tapi vaksin membuat tubuh memiliki proteksi terhadap virus, sehingga bisa cepat sembuh saat sakit,” pungkasnya.



















