“Kalau biosolar tersedia, kami gunakan. Tetapi jika kosong, terpaksa membeli BBM nonsubsidi sehingga ongkos distribusi ikut naik,” ungkapnya.
Baca juga:Kejari Jombang Musnahkan Barang Bukti 51 Perkara, Didominasi Narkotika
Di tengah tantangan tersebut, pembudidaya justru melihat peluang baru melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi pasar potensial bagi hasil budidaya lele.
Menurut Heri, satu dapur MBG membutuhkan pasokan lele sekitar 1,5 hingga 2 kuintal per minggu.
“Sejak Januari, permintaan meningkat cukup signifikan karena adanya MBG. Bahkan saat ini kebutuhan pasar masih kurang sekitar 20 sampai 30 persen,” katanya.
Tingginya permintaan tersebut mendorong anggota Pekantara menambah jumlah kolam untuk meningkatkan kapasitas produksi. Mereka juga mulai mengembangkan pakan alternatif guna menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.
“Meskipun ada tekanan ekonomi global, selama air masih tersedia dan pembudidaya tetap beraktivitas, usaha ini akan terus berjalan. Kuncinya efisiensi dan kolaborasi,” pungkasnya.



















