Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Pernak-pernik serta keberagaman jenis batu akik mengulik perhatian David Kurniadi, pemuda asal Kabupaten Trenggalek untuk mendalaminya. Berawal dari rasa penasarannya, ia sukses mendulang pundi-pundi rupiah setelah totalitas terjun sebagai pebisnis akik. Karyanya pun kini sudah melanglang buana hingga mancanegara.
Darah seni nampaknya sudah mendarah daging bagi David, sapaan akrabnya. Meskipun baru menekuni bisnis batu akik sejak kisaran tahun 2015-2016, namun kecintaannya pada dunia akik sudah tak perlu diragukan. Ini terlihat dari totalitas yang dilakukan David, dipadu dengan ciri khas penampilannya yang nyentrik.
Di ruang sederhana berukuran tak terlalu besar di Desa Rejowinangun Kecamatan Trenggalek menjadi saksi bisu jerih payahnya dalam merintis usaha akik. Sejak merintis, usaha batu akik David langsung bisa diterima di pasaran. Bahkan dia bisa dibilang, David kerap kali kebanjiran order pencinta batu akik yang saat itu lagi fenomenal.
“Namun situasi berubah saat korona (Covid-19), sedikit menurun. Namun sebagai pengrajin kita tetap bertahan, karena ini sumber penghasilan utama,” kata David.
Tak ingin redup terus menerus, dia-pun mencoba berinovasi dengan menjajakan karyanya di media sosial Facebook. Tanpa disangka, karya batu akik David mendapatkan sambutan hangat pecinta akik di jagat maya. Kali ini pesanannya pun tak hanya secara melibatkan konsumen nasional, namun sampai merambah luar negeri.
“Seperti negara-negara Asia sepertinya sudah pernah ada konsumen dari sana. Termasuk konsumen dari Amerika, Rusia, Polandia, Italia bahkan pernah Panama,” imbuhnya.
Mayoritas para pecinta batu akik di luar negeri itu memburu batu akik watu lumut khas Bumi Menak Sopal. Meskipun batuan agate itu dapat dijumpai di banyak daerah, namun batu akik watu lumut Trenggalek memiliki karakteristik dan pesonanya yang khas. Diantaranya adalah membentuk karakter pemandangan.
“Jadi punya karakter unik, warna multicoler, jadi tidak hijau-hijau saja. Bisa seperti pemandangan, karakter hewan atau bisa juga pepohonan,” ujarnya.
Tak tanggung-tanggung. Konsumen luar negeri itu rata-rata membeli jumlah cukup besar. Bahkan hitungannya bisa sampai puluhan hingga ratusan, tergantung ukuran dan jenisnya. Harganya pun dibanderol mulai Rp 10 dolar Amerika hingga tak terhingga, menyesuaikan kesepakatan. Sebab, rata-rata akik yang dikirim ke luar negeri masih dalam kondisi utuh, tidak termasuk cincinnya.
“Karena ukuran menentukan. Selain untuk cincin juga untuk liontin yang mayoritas di pesan,” imbuhnya.
Melihat perkembangan usahanya itu, David kembali teringat soal proses awal ia belajar sebelum memutuskan terjun ke dunia batu akik. Berawal dari kecintaannya kepada dunia akik mengantarkannya hingga meraup pundi-pundi rupiah jutaan rupiah tiap bulan. Namun terpenting baginya bisa mengenalkan produk asli Trenggalek ke kancah internasional.
“Setelah korona bisa menghasilkan Rp 4- Rp 5 juta per bulan. Menurut saya ini adalah peluang usaha yang menjanjikan. Namun yang lebih bangga, produk Trenggalek bisa eksis di luar negeri,” pungkasnya.
Reporter : Angga Prasetya
Editor :



















