Ponorogo, SEJAHTERA.CO – Suasana berbeda menyelimuti Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Kamis (21/8/2025). Sejak pagi, ratusan warga sudah memadati area persawahan.
Mereka datang bukan untuk bekerja di ladang, melainkan untuk merayakan tradisi Methik Pari, sebuah ritual syukuran yang selalu digelar menjelang panen padi.
Dari setiap sudut desa, warga berjalan membawa tumpeng berisi nasi lengkap dengan ingkung ayam. Jumlahnya mencapai sekitar 200 buah. Setelah terkumpul di balai desa, tumpeng-tumpeng itu kemudian diarak menuju hamparan sawah.
Di bawah langit cerah, doa dipanjatkan bersama, memohon kelancaran panen sekaligus mengucap syukur atas hasil bumi yang melimpah.
Baca Juga :Kejari Nganjuk Periksa 17 Kepala Sekolah dan Pejabat Disdik Terkait Dugaan Korupsi Chromebook
Bagi masyarakat Glinggang, Methik Pari bukan sekadar pesta rakyat, melainkan ungkapan rasa syukur kolektif. “Setiap warga membawa ingkung satu-satu, lalu dimakan bareng-bareng di sawah. Inilah yang selalu ditunggu warga Glinggang,” tutur Sumaria, salah satu warga yang tampak bersemangat mengikuti ritual.
Hal serupa disampaikan oleh Harianti. Menurutnya, setiap RT diminta ikut serta dengan menyiapkan sekitar 10 tumpeng. “Tradisi ini sekaligus doa bersama agar panen berjalan lancar dan hasilnya melimpah,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak hanya hidangan, suasana tradisi ini semakin semarak dengan busana adat Jawa. Para perempuan mengenakan kebaya, sementara kaum lelaki memakai penadon. Balai desa dan sawah yang biasanya ramai dengan aktivitas tani, seketika berubah menjadi panggung budaya penuh warna.
Di tengah riuh tawa warga, doa bersama tetap khidmat. Setelah itu, tumpeng dan ingkung disantap bersama-sama. Bagi masyarakat desa, momen ini menjadi simbol kebersamaan, kebahagiaan, dan keyakinan bahwa keberkahan datang dari Tuhan.
Baca Juga :Hujan Deras Picu Longsor di Tulungagung, 8 Rumah Rusak dan Sekolah Ambruk
Kepala Desa Glinggang, Gunung, menegaskan bahwa Methik Pari adalah wujud syukur atas limpahan hasil bumi, khususnya padi.
“Tujuannya ini bentuk syukur kepada Allah SWT bahwa seluruh warga Desa Glinggang diberi panen yang melimpah ruah, selamat. Kemarin kan banyak serangan hama, dan di Glinggang semuanya selamat, panennya juga bagus,” ujarnya.
Gunung menyebut, wilayah Glinggang memiliki sekitar 110 hektare lahan pertanian, sebagian besar ditanami padi. Dalam sepekan mendatang, sawah-sawah itu akan memasuki masa panen raya. “Alhamdulillah semoga setiap tahun hasil panen di Desa Glinggang bisa tetap melimpah,” katanya penuh harap.
Tradisi Methik Pari menjadi bukti bahwa hasil pertanian bukan hanya soal panen dan angka produksi. Ia adalah perayaan kehidupan, penghormatan kepada alam, dan pengikat tali persaudaraan antarwarga desa.
Baca Juga :Peluncuran Buku Pilkada Kabupaten Kediri, KPU Gandeng UIN Syekh Wasil
Di Glinggang, sawah bukan hanya ladang rezeki, tetapi juga panggung budaya yang menjaga harmoni antara manusia, tanah, dan Sang Pencipta.



















