Mantapkan Akurasi Data untuk Percepatan Penurunan Stunting, Pemkot Kediri Gelar Pendampingan Aksi Konvergensi
Kediri, SEJAHTERA.CO – Sebagai wujud nyata komitmen Pemerintah Kota Kediri dalam mengintervensi permasalahan gizi dan kesehatan masyarakat secara terintegrasi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kediri menyelenggarakan Pendampingan Aksi Konvergensi Bina Bangda Kota Kediri Semester II Tahun 2025, Senin (8/12).
Kegiatan ini diikuti oleh 20 perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan berlangsung selama dua hari di salah satu hotel di Kota Kediri. Peserta mendapatkan pendampingan penguatan kapasitas melalui pemaparan materi dari narasumber Bappeda Provinsi Jawa Timur, baik secara daring maupun luring.
Kepala Bappeda Kota Kediri, Fery Djatmiko menjelaskan, kegiatan ini difokuskan pada pengisian dan pemutakhiran data sebagai dasar penyusunan dokumen perencanaan penurunan stunting. Menurutnya, keberhasilan pembangunan, khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak, sangat bergantung pada ketersediaan data yang valid dan akurat.
“Melaksanakan pembangunan tanpa didasari data yang benar hanya akan menghasilkan trial and error. Untuk itu, pada Semester II Tahun 2025 ini, fokus kita adalah memastikan kelengkapan dan validitas data sasaran serta data layanan,” tegas Fery.
Ia menambahkan, data yang dimutakhirkan meliputi data kesehatan ibu dan anak, mulai dari jumlah ibu hamil, ibu nifas, hingga anak usia 0–59 bulan. Selain itu, juga mencakup data layanan gizi seperti pemantauan pertumbuhan, pemberian makanan tambahan, serta penanganan kasus gizi buruk dan gizi kurang.
Tak kalah penting, data lingkungan dan sosial turut menjadi perhatian, di antaranya akses air minum aman, sanitasi layak, kepemilikan jaminan kesehatan nasional (JKN), serta dokumen kependudukan seperti akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA).
“Seluruh data tersebut bersumber dari puskesmas, Dukcapil, PLKB, kecamatan, dan kelurahan. Data ini akan menjadi landasan evaluasi kinerja semester berjalan sekaligus dasar perencanaan intervensi yang lebih tepat sasaran ke depan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fery juga menyinggung prestasi Kota Kediri yang berhasil meraih Juara II tingkat nasional dalam aksi percepatan penurunan stunting. Capaian ini, menurutnya, merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor yang solid dan berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi seluruh OPD terkait, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, PUPR, Perkim, hingga pemerintah kecamatan dan puskesmas yang telah bekerja keras mewujudkan prestasi ini. Harapannya, angka stunting di Kota Kediri terus menurun dan ke depan tidak ada lagi bayi yang lahir dalam kondisi stunting,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fery mengungkapkan, Kota Kediri memiliki sejumlah inovasi yang mendapat perhatian nasional. Salah satunya adalah program satu puskesmas satu dokter spesialis anak, yang saat ini tengah dilirik oleh Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) untuk direplikasi di daerah lain. Selain itu, Kota Kediri juga mengembangkan aplikasi pendukung pengelolaan data penurunan stunting.
“Kami sudah didatangi Setwapres selaku penanggung jawab kegiatan percepatan penurunan stunting. Mereka telah melihat langsung implementasi program tersebut dan berencana mengadopsinya di daerah lain,” tuturnya.
Melalui kegiatan pendampingan ini, Fery berharap upaya konvergensi penurunan stunting di Kota Kediri semakin optimal, terarah, dan berbasis data yang valid, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya ibu dan anak.



















