Kirab Budaya Suro Sakral di Pamuksan Sri Aji Jayabaya

Kirab Budaya Suro Sakral di Pamuksan Sri Aji Jayabaya
Murdi Hantoro Ketua DPRD Kabupaten Kediri dan Mustika Prayitno Adi Plt Kepala Disparbud Kabupaten Kediri saat pisowanan di Kirab Ageng Suroan di Pamuksan Sri Aji Jayabaya Jumat siang.(bakti/sejahtera.co)

Kediri, SEJAHTERA.CO – Asap dupa dan mewangian reroncen melati menyeruak di pendopo Pamuksan Sri Aji Jayabaya. Kirab Ageng yang bertepatan di awal bulan Suro sakral dan magis.

Peserta kirab dan pisowanan ini menyertakan pusaka Kyai Bimo pusaka piandel Sang Sri Aji Jayabaya.

telah perjalanan hampir satu kilometer seluruh tamu yang hadir duduk bersila sebelum dilakukan tabur bunga dan sesuci di Pamuksan Sang Raja.

Read More

Sementara pusaka Kyai Bimo diletakkan dibawa dan dipasang sisi barat dan dipayungi.

Selanjutnya Murdi Hantoro dan Mustika Adi Prayitno secara bergiliran maju dengan lampak dodok jengkeng menuju Pamuksan hatur sembah dan tabur bunga keliling Pamoksan.

Baca Juga :Ini Daftar Wisata Pantai di Blitar dengan Nuansa ala Bali dan Raja Ampat

Setelah selesai perlahan mundur dan kembali ke tempat awal.

Plt Kepala Disparbud Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi menjelaskan, Kirab Budaya Suro ini agenda tahunan dan dilalui dengan suasana sakral.

Mengingat Sang Sri Aji Jayabaya adalah raja yang agung dan berwibawa dan sudah sepatutnya diberi penghormatan.

“Seluruh prosesi kita ikuti hingga akhir acara. Banyak pengunjung yang ikut di acara ini untuk Terima dan laku tirakat di bulan Suro. Kirab ini juga bagian dari kirab wisata budaya spiritual,” jelasnya.

Dra. Katarina SH, MPd, Mhun, dari Yayasan Honggodento Yogyakarta mengatakan, Sang Sri Aji Jayabaya ini dikenal Luniwih Gung Bhinathoro dan dicintai rakyatnya. Ramalanya tak pernah meleset hingga saat maka wajar jika rakyat mengagumi kharismanya.

Baca Juga :Ziarah ke Makam Bung Karno, Berdoa Sekaligus Selami Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Perpustakaan Nasional

“Sebelum muksa di tempat ini. Sang Raja terlebih dulu mandi dan sesuci di Sendang Tirto Kamandanu dan kemudian lelaku dan lukar busono hingga mukso di sini. Karenanya yang ke sendang Tirto Kamandanu utamanya penari yang tabur bunga harus gadis yang suci,” jelasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *