Mohamad Akhyak, Seniman asal Jombang, Menyulam Pasir Laut Menjadi Karya Seni

Mohamad Akhyak, Seniman asal Jombang, Menyulam Pasir Laut Menjadi Karya Seni
Mohamad Akhyak menunjukkan salah satu karya seni lukis pasir laut di Rumah Kreatif miliknya, Jombang.(agung/sejahtera.co)

Jombang, SEJAHTERA.CO – Melukis dengan cat dan kuas adalah hal biasa. Namun, di tangan Mohamad Akhyak, pasir laut yang sederhana bisa disulap menjadi karya seni bernilai tinggi.

Baca Juga :Akhir Tahun, Dapat Tambahan PAD Rp 1,6 Miliar, Ini Penjelasan Kepala BPPKAD Kabupaten Ponorogo

Seniman asal Jombang ini berhasil mengubah butiran pasir dari berbagai pantai menjadi lukisan pasir penuh makna yang memukau.

Read More

Akhyak, yang juga seorang guru kesenian di MAN 3 Jombang, telah menggeluti seni lukis pasir sejak 2017 dan terus menarik perhatian banyak orang dengan inovasinya.

“Saya awalnya hanya membuat lukisan potret saja. Waktu itu masih dianggap sebagai kerajinan atau kraft. Tapi seiring waktu, masyarakat mulai menganggap ini sebagai sand art atau seni pasir,” ujar Akhyak saat ditemui di Rumah Kreatif miliknya di Dusun Bulak, Desa Mojokrapak, Tembelang, Jombang, pada Senin (2/12/2024).

Baca Juga :Kebut Pencairan Bansos BLT DBHCHT, Ini Penjelasan Kepala Dinsos Kabupaten Tulungagung

Untuk menciptakan karya seni dari pasir laut, Akhyak memulai prosesnya dengan menyiapkan media lukis berupa kain kanvas. Media ini terlebih dahulu dilumuri lem kayu sebelum ditaburi pasir laut yang sudah dibersihkan. Setelah semua permukaan kanvas tertutup pasir, media lukis tersebut dijemur hingga kering.

Di atas kanvas berpasir inilah, Akhyak mulai menggambar karyanya. Ia membuat sketsa menggunakan pensil, kemudian melumuri beberapa bagian sketsa dengan lem kayu. Pasir hitam kemudian ditaburkan di atas lem tersebut untuk menciptakan siluet yang membentuk lukisan. Dengan teknik sederhana namun presisi ini, Akhyak mampu menciptakan gambar yang memukau.

Baca Juga :Satreskrim Polres Ponorogo Amankan ABH Pelaku Pencurian Sepeda Motor Asal Bandung

Pasir laut yang digunakan Akhyak berasal dari berbagai daerah, seperti Tuban, Lumajang, Trenggalek, Malang, hingga Pantai Parangtritis di Yogyakarta. Menurutnya, pasir menjadi simbol bahwa media seni tidak harus mahal atau terbatas pada bahan konvensional.

“Kenapa menggunakan pasir? Karena saya ingin mengedukasi diri saya dan masyarakat bahwa berkarya tidak terbatas pada media. Apa pun bisa menjadi karya seni,” ungkapnya.

Karya Akhyak mencakup berbagai jenis lukisan, mulai dari kaligrafi hingga potret tokoh nasional dan lokal. Beberapa tokoh yang pernah ia lukis antara lain KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbulloh, KH Bisri Syansuri, dan Khofifah Indar Parawansa.

Baca Juga :Molor Dua Hari, KPU Kota Blitar Akhirnya Gelar Rekapitulasi 4 Desember, Penyebab Pembahasan Rekomendasi PSU di 13 TPS

Baru-baru ini, Akhyak melukis potret Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Lukisan tersebut diserahkan pada acara Hari Guru Nasional di Jakarta.

“Saya merasa terhormat karena bisa memberikan karya ini kepada beliau sebagai bentuk apresiasi,” ujar Akhyak.

Karya seni Akhyak tidak hanya unik, tetapi juga bernilai tinggi. Lukisan dengan ukuran 40 x 60 cm dihargai Rp 1,5 juta, sedangkan ukuran lebih besar seperti 80 x 120 cm dibanderol hingga Rp 14 juta. Harga ini, menurut Akhyak, sepadan dengan proses panjang dan keunikan seni lukis pasir laut.

Baca Juga :Pemkab Trenggalek Ciptakan 5000 Wirausaha Perempuan Baru Saban Tahun, Rambah Platform Digital

Bagi Akhyak, melukis dengan pasir bukan sekadar cara untuk berkarya, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat. Ia ingin menunjukkan bahwa seni tidak terbatas oleh bahan atau media.

“Kita bisa menggunakan apa saja di sekitar kita untuk menciptakan sesuatu yang bernilai seni tinggi,” jelasnya.

Baca Juga :Dugaan Politik Uang Pilkada Kota Batu, Bawaslu Hentikan Laporan

Melalui karya-karyanya, Akhyak tidak hanya memperkenalkan seni lukis pasir laut kepada masyarakat, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk berani bereksperimen dengan bahan-bahan tak biasa. Inovasinya membuktikan bahwa seni tidak mengenal batas dan selalu memiliki cara untuk berkembang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *