Baca Juga :Aksi Pencurian di Rumah Mewah Jalan Bromo Kota Batu Terekam CCTV
Dia mengatakan di tahun ular ini, bagi warga keturunan Tionghoa banyak berharap dihinggapi keberuntungan. Dan keberadaan barongsai menjadi perangsang agar usaha semakin lancar dan langgeng.
“Mudah-mudahan begitu. Makanya barongsai banyak yang menyempatkan untuk mampir ke toko-toko. Pemilik toko juga suka memberikan angpau,” katanya.
Nah, menariknya pada perayaan Imlek setiap tahun pemainnya mayoritas adalah pribumi. Sementara warga keturunan hanya sekitar 30 persen saja. Bahkan tak sedikit yang mengenakan hijab.
“Iya memang banyak yang pribumi. Dan kami juga senang, karena barongsai bisa meresap di masyarakat. Barongsai juga kesenian yang dilestarikan,” ujarnya.
Baca Juga :Pelantikan Kepala Daerah Serentak, Pemkot Batu Pastikan Tidak Ada Kekosongan Kekuasaan
Banyaknya pemain pribumi itu juga menjadi bukti akulturasi di Kota Blitar benar-benar ada.



















