Lebih dari Seratus Kasus DBD di Tulungagung Terjadi Awal Tahun, Ini Penyebabnya

Lebih dari Seratus Kasus DBD Terjadi Awal Tahun
Proses penanganan DBD pada salah satu desa di Tulungagung yang dilakukan fogging untuk membunuh nyamuk dewasa.(isal/sejahtera.co)

Namun, faktor cuaca mempengaruhi dimana jika hujan masih terjadi, maka puncak kasus DBD sama dengan tahun lalu.

Sedangkan terkait outbreak sendiri, pihaknya mengklaim jika di Tulungagung fenomena outbreak itu sudah berlalu, dimana seharusnya terjadi di tahun 2024.

Nyatanya, sepanjang tahun 2024, kemarin tidak pernah terdapat Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus DBD, sehingga outbreak tidak mungkin terjadi di tahun 2025.

Read More

Baca Juga :Satpol PP Kabupaten Kediri Kembali Razia Anak Punk, ini Hasilnya

“Tetapi kalau bulan Februari dan seterusnya ini temuan kasusnya cenderung turun, maka polanya akan berbeda dengan tahun 2024 kemarin. Outbreak di Tulungagung itu terakhir pada tahun 2019, harusnya di tahun 2024 terjadi lagi, tetapi kemarin tidak terjadi,” ungkapnya.

Kasus DBD awal tahun 2025 mayoritas menimpa anak-anak, tiga kasus meninggal dunia akibat DBD di antaranya juga di bawah umur.

Diketahui, dua kasus anak meninggal akibat DBD itu terjadi di Kecamatan Pakel dan satu di Kecamatan Sumbergempol.

Baca Juga :Satlantas Polres Ponorogo Gelar Operasi Gabungan, Temukan Plat Nomor Modifikasi

Menurut Desi, dalam upaya menurunkan angka kasus DBD di Tulungagung, pihaknya berupaya untuk menggencarkan pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Bahkan diketahui Sekda Tulungagung juga sudah mengeluarkan instruksi agar setiap masyarakat melakukan PSN di lingkungannya.

“Tidak ada upaya yang tepat selain melakukan PSN untuk menangani kasus DBD. Fogging jika tanpa dibarengi PSN tidak akan berguna. Makanya setiap sektor mulai dari puskesmas, desa dan kecamatan rutin mengingatkan setiap warga untuk melakukan PSN,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *