“Karena di sini banyak mebel dan limbah kayu yang tidak terpakai, terus iseng iseng buat Blawong dikasih warna jadul ternyata bagus dan laku,” ujarnya.
Pria 45 tahun tersebut menyebut, proses pembuatan setiap kerajinan membutuhkan ketelitian tinggi dan memakan waktu hingga satu minggu terutama pada pewarnaan dan ukiran. Satu karyanya dijual mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah.
Baca Juga :Efisiensi Anggaran, Khofifah: Pemerintah Daerah Harus Lebih Cermat dalam Membaca Peluang
“Ya tergantung ukurannya serta kerumitan ukirannya. Alhamdulillah banyak yang suka biasanya dibuat untuk ornamen atau hiasan,” papar Heri.
Tidak hanya digemari warga lokal, bahkan kerajinan kayu buatan Heri juga menembus pasar nasional hingga ke Bali dan Jakarta. Tak hayal jika banyak kolektor yang rela datang ke Ponorogo untuk pesan kerajinan buatannya tersebut.
“Kalau satu bulan biasanya bisa laku rata rata 8 – 10 buah, ada yang pesan lewat whatsapp ada juga yang datang ke sini,” pungkas Heri.



















