Pasalnya, selama ini banyak yang menganggap pendapa tempat yang privasi. Tetapi pasca ada kebijakan dibuka untuk umum pada Minggu pagi, banyak yang menyempatkan untuk mampir.
Di pendapa juga ada beberapa kegiatan khas budaya. Di antaranya latihan tari oleh para penari yang tergabung dalam Sanggar Tari Pendopo.
“Di pendapa juga ada pemandunya dari para duta wisata. Yang akan memandu mengenalkan Sejarah berdirinya bangunan,’” katanya.
Menurut sejumlah data, pendapa dibangun sejak 1875 lalu oleh Bupati Blitar kedua, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Warsoekoesomo, Pendapa Ronggo Hadi Negoro masih menyimpan banyak memori kejadian di masa lalu.
Bahkan, ruang utama di pendapa ini juga menjadi saksi bisu dahsyatnya letusan Gunung Kelud pada 1919 lalu. Bahkan aat ini masih terlihat jelas bekas timbunan abu vulkanik.
Baca Juga :Jadi Agenda Tahunan Unggulan, Blitar Ethnic National Target Masuk KEN 2025
Di bagian depan terdapat kuncungan, kemudian pendapa, dilanjutkan dengan longkangan, dan bagian paling belakang yang merupakan ruang utama yang disebut rumah induk.
Lalu, di sisi timur ruang kerja bupati, terdapat satu ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan pusaka. Salah satunya adalah satu pusaka yang tersohor di kalangan masyarakat Blitar. Yakni, cemethi alias Pecut Samandiman.



















