Ia pun berharap agar aksara ini bisa kembali dikenalkan kepada generasi muda melalui jalur pendidikan formal maupun informal.
“Kami sudah menyampaikan pentingnya pelestarian aksara Kawi ini ke Dinas Pendidikan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan,” ungkapnya.
Kihajar menambahkan, perlu ada inisiatif nyata dari pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas budaya untuk menghidupkan kembali pembelajaran aksara Kawi.
Mulai dari pelatihan, kurikulum muatan lokal, hingga digitalisasi naskah kuno berbasis aksara ini.
Baca Juga :Cegah Munculnya PMK di Peralihan Musim, Pemkab Tulungagung Terus Suntikkan Vaksin PMK
Jika tak ada langkah konkret, Aksara Kawi dikhawatirkan hanya akan menjadi lembaran sejarah yang dilupakan—bukan dilestarikan oleh generasi penerusnya.


















