Namun, di balik sistem tersebut, dana yang masuk sebenarnya hanya diputar dari anggota baru untuk membayar anggota lama. Tidak ada kegiatan investasi riil. Bahkan, korban arisan tak hanya berasal dari Malang Raya, tetapi juga menjalar hingga Banyuwangi dan Kalimantan, karena sistem getok tular atau dari mulut ke mulut.
Sejak 24 Juli 2025, pencairan dana mulai macet. Korban yang mencoba mendatangi rumah pelaku tidak membuahkan hasil. Upaya mediasi melalui perangkat desa dan kepolisian juga gagal karena pelaku menolak menyelesaikan kerugian secara langsung.
Baca Juga :Langgar Keimigrasian, WNA Asal Pakistan Dideportasi
“Saat ditanya, mereka berdalih rugi karena investasi crypto sejak Juni lalu. Tapi nyatanya, mereka masih aktif menjual slot arisan sampai akhir Juli,” ungkap Nisa.
Setelah kejadian itu, kedua terlapor dilaporkan menghilang. Laporan resmi dari 24 korban diajukan ke Polres Malang pada 30 Juli. Saat ini, penyelidikan dan pemeriksaan saksi tengah dilakukan oleh pihak berwajib.



















