Padahal, dari sisi teknis budidaya, kedelai tergolong tanaman yang tidak membutuhkan banyak air dan memiliki masa tanam relatif singkat, sekitar 70 hingga 80 hari, tergantung varietas. Di Ponorogo sendiri, varietas yang umum ditanam adalah Gepak Ijo dan Gepak Kuning.
Pemerintah sebenarnya telah berupaya mendorong kembali minat petani melalui berbagai program bantuan. Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal.
“Ada bantuan dari pusat, tapi ada syarat minimal satu kelompok harus memiliki lahan lima hektare. Sejak 2018 banyak petani tidak berminat, sehingga bantuan juga tidak terserap,” jelas Tri Budi.
Sebagai alternatif, pemerintah mendorong pola tanam tumpang sari, khususnya di sentra jagung, agar kedelai tetap dapat dibudidayakan tanpa mengganggu komoditas utama.
Di sisi lain, keterbatasan produksi kedelai lokal membuat kebutuhan pasar lebih banyak dipenuhi dari impor. Kondisi ini semakin mempersempit ruang bagi kedelai lokal untuk berkembang.
Baca juga:Harga Kedelai Naik, Ini yang Dilakukan Perajin Tempe di Ponorogo
“Produksi lokal sangat terbatas, sehingga masih bergantung pada impor,” pungkasnya.



















