Proses pengerjaan dilakukan secara manual menggunakan alat sederhana seperti cangkul, sekop, sapu lidi, hingga gerobak. Bahkan, mobil milik salah satu warga dimanfaatkan untuk memadatkan aspal secara bergantian.
Baca juga:Perjalanan Thudong 2026, Bhikkhu Ziarah ke Makam Gus Dur di Tebuireng Jombang
“Kami aspal manual, dibakar pakai solar, lalu diratakan pakai alat seadanya. Mobil teman dipakai untuk melindas agar padat,” jelas Sugiman.
Hingga kini, para pemuda telah melakukan dua kali kerja bakti pada hari Minggu, memanfaatkan waktu libur mereka. Hasilnya, lubang-lubang besar yang sebelumnya membahayakan kini telah tertutup.
Meski demikian, perbaikan belum sepenuhnya tuntas karena keterbatasan dana. Beberapa bagian pinggir jalan yang rusak ringan masih belum tersentuh.
Melalui aksi ini, para pemuda berharap pemerintah desa dan instansi terkait dapat lebih responsif dalam menangani kerusakan infrastruktur, khususnya jalan utama yang menjadi akses vital masyarakat.
“Harapan kami ke depan, kalau ada jalan rusak, segera diprioritaskan perbaikannya. Ini jalan utama, kasihan warga kalau terus jadi korban,” pungkasnya.



















