Surabaya, SEJAHETRA.CO – Januari lalu, 86 tahun yang lalu atau tepatnya 19 Januari 1938, Abdul Kadir, penyanyi kenamaan Indonesia asal Surabaya, terlahir kedunia.
Penyanyi asal Kota Pahlawan, sebutan Surabaya yang meninggal pada 29 Mei 1985 ini lebih dikenal dengan nama A. Kadir daripada Abdul Kadir.
A. Kadir, adalah seorang komposer musik-musik Melayu dan Gambus asal Indonesia. Ia adalah anak ke-4 dari 8 bersaudara.
A. Kadir adalah pemimpin Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang merupakan orchestra terbesar pada dekade 1960-an.
Jumlah anggota OM Sinar Kemala mencapai 15-25 musisi (termasuk 4-6 penyanyi), dan dengan 4-6 pemain pemain biola.
Instrumen tambahan termasuk akordeon, piano, gitar, mandolin, bas betot, klarinet, suling (suling bambu dan suling barat), terompet, trombon, dan perkusi (bongo, gendang, tamborin, marakas).
Sementara Musik Melayu yang ditekuni, adalah aliran musik tradisional yang bermula dan berkembang di wilayah pantai timur Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
Musik ini biasanya dinyanyikan oleh orang-orang dari suku bangsa Melayu yang tidak jarang diiringi pula dengan tarian khas Melayu.
Seperti setempat misalnya tari Persembahan dalam perhelatan atau pesta adat, penyambutan tetamu kehormatan, dan dalam kegiatan keagamaan.
Menariknya, dari aliran musik ini terletak pada susunannya yang terdiri dari lirik lagu yang mengandung syair yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari.
Kemudian juga penuh dengan tunjuk ajar (pesan moral), diisi dengan suara atau vokal khas cengkok Melayu, dan aransemen musik yang tersusun rapi.
Seiring dengan perkembangan zaman musik Melayu mengalami keberingsutan gaya musik misalnya saja mengalami perpaduan dengan aliran musik pop, musik rock, dan dangdut.
Aliran ini dapat dijumpai di negara-negara serumpun Melayu, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Pada awal perkembangannya alat musik yang digunakan lebih didominasi oleh tingkahan rebana yang disebut Kompang dari Ponorogo, petikan gambus, gesekan biola, picitan akordion, tingkahan gong, dan tiupan serunai.
Ini dipengaruhi oleh kebudayaan dari tanah Arab dan Eropa tradisional. Seiring dengan perkembangan teknologi itu semua digantikan dengan alat musik elektronik berupa kibor.
Walaupun demikian, dalam kegiatan-kegiatan tertentu alat musik tradisional masih tetap digunakan demi melestarikan warisan kebudayaan.
Sedangkan Gambus, adalah alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Timur Tengah. Paling sedikit gambus dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar.
Gambus dimainkan sambil diiringi gendang. Sebuah orkes memakai alat musik utama berupa gambus dinamakan orkes gambus atau disebut gambus saja.
Di TVRI dan RRI, orkes gambus pernah membawakan acara irama padang pasir. Orkes gambus mengiringi tari Zapin dan Tari Jepen yang seluruhnya dibawakan pria untuk tari pergaulan.
Lagu yang dibawakan berirama Timur Tengah. Sedangkan tema liriknya adalah keagamaan. Alat musiknya terdiri dari biola, gendang, tabla dan seruling.
Kini, orkes gambus menjadi milik orang Betawi dan banyak diundang di pesta sunatan dan perkawinan. Lirik lagunya berbahasa Arab, isinya bisa doa atau shalawat.
Perintis orkes gambus adalah Syech Albar seorang Arab-Indonesia, bapaknya Ahmad Albar, dan yang terkenal orkes gambus El-Surayya dari kota Medan pimpinan Ahmad Baqi.
Salah satu rekannya, Abdul Malik Buzaid atau lebih dikenal dengan nama Malik Bz (31 Desember 1941 – 15 Juni 2011) adalah seorang komposer music-musik Melayu berkebangsaan Indonsia.
Seperti dilansir www.wikipedia, bersama biduan bersuara emas saat itu, Ida Laila, A. Rafiq, dan anggota lainnya, Malik BZ, aktif dalam OM Sinar Kemala yang dipimpinan A. Kadir.
OM Sinar Kemala bermarkas di Ampel, Kampung Arab yang ramai dekat Masjid Kompleks ziarah Sunan Ampel di Surabaya.
Malik Bz merupakan salah satu anggota yang memegang alat musik akordeon dan piano. Selain itu ia juga berposisi sebagai pencipta lagu dalam keanggotaannya di OM Sinar Kemala sampai dibubarkannya pada tahun 1983.
Editor: Gimo Hadiwibowo



















