Potret Agroforestri Tebing Kepuh Sukorejo Trenggalek, Sulap Bekas Tambang Batu Andesit Jadi Destinasi Wisata Eksotik

Trenggalek, SEJAHTERA.CO – Destinasi wisata Agroforestri Tebing Kepuh Sukorejo, Kabupaten Trenggalek menjadi magnet baru bagi wisatawan di Bumi Menak Sopal. Namun, siapa sangka dibalik keindahan destinasi wisata itu, dulunya merupakan bekas lahan tambang batu andesit. Suguhan keindahan itu sukses mendulang pundi-pundi perekonomian bagi masyarakat.

 

Butuh waktu tidak cukup lama untuk menuju ke lokasi itu karena letaknya cukup strategis. Sebagai perbandingan, kurang dari 30 menit dibutuhkan untuk menempuh perjalanan menuju Tebing Kepuh di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari. Waktu itu merupakan estimasi jarak tempuh sekitar 11 kilometer dari Alun-alun Kabupaten Trenggalek menuju ke sana.

Read More

Meskipun harus usaha cukup ekstra saat perjalanan menuju ke sana, tapi jerih payah para wisatawan bakal terbayar dengan pemandangan eksotik. Baik di sepanjang perjalanan maupun yang disuguhkan di wisata bekas tambang batu andesit tersebut. Momentum itu sayang untuk dilewatkan dalam jepretan kamera.

 

Namun dibalik keindahan itu, dulunya tempat itu dikenal sebagai tambang batu andesit di sentra pembuatan genting itu. Bekas tambang itu kemudian oleh pemerintah desa bersama stakeholder dan dukungan masyarakat disulap menjadi sebuah wisata rintisan yang kini memiliki andil dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Apa yang dilakukan oleh masyarakat ini diharapkan dapat mendorong dan memberikan contoh masyarakat lain untuk melakukan yang sama. Ternyata menjaga ekologi itu juga memberikan dampak ekonomi. Harapannya nanti ekonomi dan ekologi dapat berjalan beriringan,” kata Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin.

 

Langkah itu sekaligus sebagai kampanye kepada masyarakat, bahwasanya lahan bekas tambang yang dianggap sebelah mata dapat menghasilkan keuntungan jika dikelola dengan baik. Seperti misalnya di bekas lahan tambang itu.

Di lokasi itu, pemerintah memasang amphitheater yang nantinya dapat digunakan untuk pementasan seni.

“Ini sebagai simbol dimana perekonomian dulu selalu diasosiasikan dengan perekonomian yang merusak, yang degeneratif. Sedangkan ini merupakan bagian dari degeneratif ekonomi. Contoh disini, ternyata bisa bermanfaat karena di sini bisa menjadi amfiteater untuk pusat yang namanya kampung budaya dan kampung wisatanya,” imbuhnya.

 

Selain menyuguhkan panorama eksotik, wisata di lahan bekas tambang andesit itu juga menyuguhkan ragam fasilitas lainnya. Seperti misalnya wahana permainan bebek-bebek-an air di lahan bekas galian itu. Di lokasi itu ditaburi benih ikan sehingga semakin memanjakan mata para wisatawan.

“Kemudian lubang bekas tambang digunakan sebagai embung, sumber protein, jadi sumber ekonomi. Sekarang ada mainan bebek-bebekan untuk disewakan. Ini menjadi contoh karena orang biasanya mau mengerjakan itu bila sudah ada buktinya, bahwa menjaga lingkungan itu ada rezekinya. Setelah itu rezeki lain pasti nurut,” ujarnya.

 

Untuk menunjang itu, Mas Ipin menyebut akan menguatkannya dengan atraksi-atraksi. Lewat festival-festival itu diharapkan mampu mendongkrak nilai destinasi tebing kepuh sehingga lebih dikenal secara luas. Langkah itu juga akan memberikan dampak kepada perekonomian masyarakat setempat.

 

“Ini nantinya juga akan kita aktivasi dengan atraksi, kita pertajam dengan atraksi. Kemudian nantinya festival-festival nantinya akan kita kolaborasikan dengan desa-desa wisata. Rapat-rapat atau Musrenbang-kan sekarang tidak lagi kita lakukan di hotel. Kita bertahan agar acara-acara bisa kita laksanakan di desa-desa,” pungkasnya.

Reporter: Angga Prasetya

Editor: Dhita Septiadarma

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *