Batu, SEJAHTERA.CO – Sorotan publik terhadap keberadaan wisata Mikutopia di Kota Batu mulai direspons serius oleh pihak pengelola.
Tak ingin polemik berlarut, manajemen kini bergerak cepat melakukan pembenahan, baik dari sisi perizinan lingkungan maupun infrastruktur di lapangan.
Kuasa hukum Mikutopia, Bagas Dwi Wicaksono Ramadhani, menyampaikan bahwa saat ini proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) tengah dipercepat.
Penyusunan dokumen tersebut menjadi fokus utama sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, salah satu langkah nyata yang sudah berjalan adalah pembangunan puluhan sumur serapan di area wisata.
Baca Juga :Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tempe di Kota Batu Kian Terhimpit
Upaya ini ditujukan untuk mengantisipasi potensi genangan sekaligus menjaga keseimbangan daya resap air di kawasan tersebut.
“Pembangunan sumur serapan terus berjalan. Dari total 56 titik yang direncanakan, progresnya sudah mencapai sekitar separuh,” jelasnya,Kamis (9/4/2026).
Selain itu, kritik terkait akses masuk yang kerap menimbulkan kemacetan juga mulai ditangani.
Manajemen berencana memperlebar jalur utama menuju lokasi wisata guna memperlancar arus kendaraan pengunjung.
“Jalur masuk akan kami tambah lebar sekitar tiga meter di sisi kanan. Harapannya, kepadatan saat jam ramai bisa terurai,semoga dalam waktu dua Minggu ini selesai terkait jembatan tersebut,” tambahnya.
Bagas menegaskan, pihaknya tidak menutup mata terhadap berbagai masukan yang berkembang.
Justru, kritik dari masyarakat dan pemerintah daerah dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan wisata.
Baca Juga :Korslet, Rumah Warga Sambiresik Terbakar, ini Kerugiannya
Ia juga memastikan bahwa pengembangan Mikutopia ke depan tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga memperhatikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan warga sekitar.
Di sisi lain, tingginya animo masyarakat terhadap destinasi baru ini dinilai menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Kehadiran Mikutopia telah memicu munculnya aktivitas usaha baru di sekitar kawasan wisata.
Namun demikian, publik masih menunggu langkah konkret dan konsistensi pengelola dalam menuntaskan berbagai pekerjaan rumah yang ada.
Transparansi dan keseriusan dalam memenuhi aspek lingkungan akan menjadi kunci keberlanjutan destinasi tersebut di masa mendatang.



















