Jombang, SEJAHTERA.CO – Embung Mangunan kering imbas musim kemarau di Kabupaten Jombang. Retakan tanah tampak pada tempat penampungan air di Desa Mangunan, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jumat (9/8).
Hal ini menyebabkan kekhawatiran di kalangan petani yang bergantung pada air dari embung untuk irigasi.
Baca Juga : Berkah Kemarau, Hasil Panen Semangka Petani Jombang Melimpah
Hamparan luas embung tak lagi terisi air. Kondisi ini membuat embung tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga para petani kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka.
Nyoto, seorang petani di Desa Mangunan mengungkapkan, embung ini kering selama satu bulan terakhir. “Biasanya, kami menggunakan air dari embung ini untuk menanam padi dan tembakau. Namun, karena sudah satu bulan kering, embung ini tidak bisa digunakan lagi,” ungkapnya.
Baca Juga : Hasil Gedoran Yenny Wahid, Panjat Tebing Indonesia Dulang Emas Pertama di Olimpiade Paris
Sementara terpisah, Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Jombang, Nur Puji Subagyo mengakui, kekeringan terjadi di beberapa embung. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk mengantisipasi dampak kekeringan ini, khususnya di wilayah pertanian.
“Jika embung sudah kering dan tidak dapat digunakan untuk pengairan, Dinas Pertanian akan berkoordinasi dengan kami dan SKPD terkait untuk mencari solusi guna memberikan pengairan yang baik bagi petani,” kata Puji.
Puji juga menambahkan, puncak kekeringan di Kabupaten Jombang diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus ini. Namun, ia bersyukur bahwa meski kemarau melanda, masih ada hujan sesekali yang membantu meringankan kondisi.
“Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada bulan Agustus ini. Kita perlu mengantisipasi dampaknya, seperti kebakaran lahan, dan mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan membakar sesuatu, terutama di tengah musim kemarau dan adanya angin kencang,” pungkasnya.



















